Ia menyebut karya tersebut sebagai fiksi yang menggunakan peristiwa sejarah sebagai titik temu antara cerita personal dan ingatan kolektif.
“Saya memahami jika ada orang yang merasa pendekatan horor tidak tepat. Itu adalah pandangan yang sah.”
BACA JUGA: 3 Kebiasaan Sederhana Ini Bisa Bikin Tidur Lebih Nyenyak, Jangan Lagi Begadang!
Hanung mengatakan pilihan genre tidak otomatis menunjukkan ketiadaan empati terhadap sejarah.
Baginya, film tersebut justru ingin membicarakan bagaimana dendam dan kekuasaan dapat meninggalkan teror panjang.
Ia juga menilai penting bagi pembuat film untuk menyadari batas antara cerita rekaan dan tragedi sejarah ketika keduanya bertemu dalam sebuah karya.
Baskara Mahendra Ikut Terkecoh
Permainan teka-teki dalam film ternyata tidak hanya ditujukan kepada penonton. Baskara Mahendra mengaku ikut kesulitan menebak sosok di balik rangkaian pembunuhan.
BACA JUGA: Raisya Bawazier Digugat Cerai, Sidang Perdana Digelar Hari Ini
Memerankan Letnan Soegeng membuat Baskara harus masuk ke karakter berlatar Indonesia era 1960-an. Ia juga mengikuti investigasi yang dipenuhi perubahan arah cerita.
“Di film ini saya harus bermain peran di latar yang tidak familiar dengan saya, yaitu Indonesia tahun 1960-an,” ujar Baskara.
Menurutnya, banyaknya plot twist membuat proses penggarapan film menjadi pengalaman yang menarik.
Bahkan setelah terlibat langsung dalam produksi, ia mengaku tidak mampu menebak dalang sebenarnya.
BACA JUGA: Spesifikasi Poco X7 Pro Resmi, Performa Gahar Baterai Monster
Trailer Disebut Sengaja Menyesatkan
Trailer berdurasi sekitar dua menit dapat membuat penonton merasa telah menemukan petunjuk penting.
Namun, film justru menyiapkan sejumlah kejutan berbeda dari dugaan awal.
Setiap karakter memiliki ruang untuk dicurigai. Tokoh masyarakat, pejabat lokal, aparat keamanan hingga warga desa diperlihatkan menyimpan persoalan masing-masing.
Kondisi tersebut membuat penyelidikan Soegeng tidak hanya menjadi pencarian pelaku. Penonton juga diajak mempertanyakan siapa yang dapat dipercaya di tengah ketakutan yang terus meningkat.
BACA JUGA: ADVAN Macha Resmi Comeback, 5G AMOLED Harga Bikin Melongo
Dengan pola pembunuhan setiap tanggal 30, waktu menjadi bagian penting dalam membangun ketegangan cerita. Setiap mendekati tanggal tersebut, ancaman terasa semakin dekat.





