DI IBU KOTA Kabupaten Tebing Tinggi Empat Lawang, berdiri dua rumah yang saling bertetangga di sebuah jalan poros.
Di sanalah tinggal dua keluarga dengan latar belakang berbeda, namun memiliki mimpi yang sama: membangun tanah kelahiran agar sejajar dengan daerah lain, terutama dalam ketahanan pangan dan pariwisata.
Keluarga Elma
Keluarga ini terdiri dari Elma, Bapang Elma, dan Bang Tapa. Ibu Elma telah wafat saat melahirkan adik bungsu mereka.
Bapang Elma—yang akrab dipanggil Pak Hijau atau Pak Daun—adalah pensiunan guru sekaligus petani.
Ia dikenal sebagai pencinta tanaman dan pelestari alam. Cita-citanya sederhana namun besar: membangun bank pangan agar masyarakat Empat Lawang tercukupi kebutuhan pangannya, bahkan mampu membantu daerah lain dengan pangan murah dan berkualitas.
Bapang Elma berasal dari Muara Pinang, sementara almarhumah istrinya merupakan keturunan campuran Paiker dan Padang Tepong.
Elma sendiri adalah seorang dokter yang bertugas di puskesmas. Adiknya, Bang Tapa, sedang menempuh pendidikan di jurusan Agribisnis di salah satu universitas ternama.
Nama Elma berasal dari dua kata: Eling dan Amal. Eling dalam bahasa Jawa berarti ingat atau sadar.
Nama ini mencerminkan nilai hidup yang ingin ditanamkan sang ayah, yang semasa mudanya pernah menuntut ilmu di Pulau Jawa.
Sementara nama Bang Tapa adalah singkatan dari Bangun Pemantapan Pangan—sebuah visi jauh ke depan tentang pentingnya ketahanan pangan, jauh sebelum isu itu ramai diperbincangkan para ahli.
Keluarga Pawang
Di rumah sebelah tinggal keluarga Pawang. Pawang adalah anak tunggal yang hidup bersama kedua orang tuanya: Bicik Ela dan Mang Pawang.
Mang Pawang adalah pegawai Dinas Kesehatan, lulusan akademi perawat, dan sebentar lagi memasuki masa pensiun.
Ia keturunan Talang Padang dan Saling, sementara istrinya, Bicik Ela, merupakan putri asli Pendopo.
Bicik Ela dikenal sebagai guru Bahasa Inggris yang cantik dan berbakat seni. Semasa sekolah dan kuliah, ia aktif mengikuti lomba menyanyi, menari, baca puisi, dan menulis. Banyak karyanya telah terbit di koran dan majalah.
Mang Pawang memiliki kecintaan besar pada seni, alam, dan pariwisata. Ia gemar menjelajah potensi wisata di bumi Saling Keruani Sangi Kerawati, meski banyak di antaranya belum dikelola dengan baik.
Saat kuliah di akademi perawat, ia aktif sebagai pengurus organisasi pecinta alam dan dikenal luas di tingkat nasional.
Pawang sendiri kini kuliah di jurusan Ekonomi Pemasaran. Ia hobi traveling dan bercita-cita menjadi fotografer profesional.
Nama “Pawang” dipilih dengan harapan ia kelak menjadi sosok yang mampu mengelola dan mengendalikan alam demi kepentingan umat manusia.
Mimpi yang Sama
Kedua keluarga memiliki pandangan yang sejalan: mereka ingin melihat Kabupaten Empat Lawang tumbuh sejajar dengan daerah lain, khususnya dalam sektor ketahanan pangan dan pariwisata.
Karena itulah, ketika tokoh-tokoh Empat Lawang yang tersebar di seluruh Indonesia dan luar negeri menggagas pembentukan Kabupaten Empat Lawang, mereka menyambutnya dengan penuh antusias.
Tanpa ragu, kedua keluarga memantapkan diri untuk mengabdikan hidup dan profesi mereka di tanah kelahiran—membesarkan Empat Lawang dengan ilmu, pengalaman, dan cinta terhadap alam. (*/)
Disclaimer: Artikel ini ditulis Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Empat Lawang, Noperman Subhi, melalui proses editing oleh Redaksi LINTANGPOS.com





