Namun Razr Fold tidak hanya menjual kamera dan desain.
Motorola menyasar produktivitas dengan menyematkan dukungan stylus, fitur langka di kategori foldable.
Menariknya, stylus ini berukuran seperti pulpen biasa, bukan stylus tipis yang cepat melelahkan tangan.
Fitur ini dipadukan dengan layar fleksibel 8,1 inci beresolusi 2K LTPO, menciptakan pengalaman menulis dan multitasking yang lebih natural.
Di sisi perangkat lunak, Motorola menjanjikan tata letak fleksibel, antarmuka adaptif untuk aplikasi, serta peningkatan signifikan pada sistem multitasking—elemen penting bagi pengguna ponsel lipat yang mengincar produktivitas tinggi.
Pertanyaan terbesarnya kini ada pada harga.
Saat para pesaing seperti Samsung, Huawei, dan Google mematok harga foldable mereka di kisaran US$1.800–US$2.000,
Motorola justru dikenal agresif. Razr 2025 dijual resmi hanya US$650.
Jika strategi ini berlanjut, Razr Fold berpotensi menjadi “pembunuh raksasa” yang menawarkan pengalaman foldable kelas atas tanpa membuat dompet runtuh.
Momentum ini semakin krusial di tengah kondisi industri smartphone yang tengah bergejolak akibat lonjakan harga RAM karena tingginya permintaan pusat data AI.
Namun, dengan dukungan rantai pasok Lenovo sebagai perusahaan induk, Motorola memiliki peluang besar untuk menekan biaya produksi.
Jika semua skenario ini terwujud, Razr Fold bukan sekadar produk baru—melainkan ancaman nyata bagi dominasi Samsung dan Huawei di pasar ponsel lipat global. (*/red)






