OB SPPG di Palembang Bunuh Rekan Kerja, Akhirnya Menyerahkan Diri

oleh -64 Dilihat
oleh
Kasus pembunuhan rekan kerja di Palembang terungkap. Pelaku menyerahkan diri ke polisi setelah diliputi rasa bersalah dan tak tenang, Selasa (27/1/2026) malam. Foto: istimewa

Ringkasan Berita :

Seorang OB bernama Andi (38) menyerahkan diri ke polisi usai membunuh rekan kerjanya, Wulandari (50). Pembunuhan terjadi di Muara Enim dengan motif rasa kesal karena korban disebut sering mengganggu. Jasad korban ditemukan di semak bekas kebun nanas.


PALEMBANG, LINTANGPOS.com – Rasa bersalah yang terus menghantui akhirnya membuat Andi (38) mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Pria yang sehari-hari bekerja sebagai office boy (OB) di salah satu SPPG di Palembang itu menyerahkan diri ke polisi setelah menghabisi nyawa rekan kerjanya sendiri.

Peristiwa tragis ini menjadi perhatian publik karena melibatkan sesama pekerja dan berakhir dengan kematian di lokasi sunyi.

Kasus pembunuhan tersebut terjadi di Desa Gaung Asam, Kecamatan Belida, Kabupaten Muara Enim.

Korban diketahui bernama Wulandari (50), warga Plaju, Palembang, yang juga bekerja di SPPG yang sama dengan pelaku.

Wulandari selama ini dikenal sebagai pekerja bagian cuci ompreng, sementara Andi bertugas sebagai OB.

BACA JUGA: Kasus Kredit Rp5 Miliar Bank Pelat Merah Masuk Meja Jaksa

Jasad korban pertama kali ditemukan warga di semak-semak bekas kebun nanas.

Kondisinya memprihatinkan. Di bagian leher terlihat bekas jeratan, sementara pada kakinya terdapat sejumlah luka.

Penemuan itu sempat menggegerkan warga sekitar karena lokasi kejadian tergolong sepi dan jauh dari permukiman padat.

Tak lama setelah penemuan jasad korban, titik terang mulai muncul.

Andi yang berasal dari Pemulutan Selatan, Kabupaten Ogan Ilir, akhirnya memberanikan diri mendatangi rumah salah satu anggota polisi.

Ia kemudian dibawa ke Polsek Ilir Barat I, Palembang, pada Selasa malam, 27 Januari 2026, sekitar pukul 20.00 WIB.

BACA JUGA: Niat Mendahului Berujung Duka, Pelajar 14 Tahun Tewas Terlindas Truk LPG

Kapolsek Ilir Barat I, Kompol Fauzi Saleh, membenarkan penyerahan diri tersebut. Menurutnya, pelaku secara langsung mengakui perbuatannya tanpa paksaan.

“Pelaku mendatangi rumah salah satu anggota kami lalu dibawa ke Polsek dan mengakui kalau dia yang membunuh perempuan tersebut,” ujar Fauzi, Rabu (28/1/2026).

Dari hasil pemeriksaan awal, polisi memastikan bahwa korban dan pelaku saling mengenal dengan baik karena bekerja di tempat yang sama.

Hubungan rekan kerja itulah yang kemudian berujung petaka.

“Pelaku dan korban adalah rekan kerja sama-sama di SPPG, pelaku sebagai OB dan korban tukang cuci ompreng,” jelas Fauzi.

Motif pembunuhan ini terbilang sensitif dan kompleks.

BACA JUGA: Tragis! Balita 1 Tahun Tewas di Genangan Air Rumah

Berdasarkan pengakuan tersangka, Andi mengaku kesal karena merasa sering diganggu oleh korban.

Ia menegaskan bahwa dirinya sudah memiliki istri dan anak, sehingga merasa tidak nyaman dengan perlakuan korban terhadapnya.

“Kalau dari pengakuan tersangka, dia kesal karena sering diganggu korban, padahal tersangka sudah punya istri dan anak,” lanjut Kapolsek.

Usai menyerahkan diri, Andi langsung diserahkan ke Satreskrim Polres Muara Enim untuk menjalani proses hukum lebih lanjut, mengingat lokasi kejadian berada di wilayah hukum Muara Enim.

Dalam pengakuannya kepada polisi, Andi mengatakan bahwa sejak kejadian itu ia tidak pernah merasa tenang.

Rasa bersalah terus menghantuinya, membuatnya sulit beraktivitas seperti biasa.

BACA JUGA: Dari Duka ke Maut, Pria Tewas Dibunuh Tetangga Sendiri

“Tidak tenang rasanya. Sudah tahu risikonya, Pak. Saya tanggung sendiri,” ucap Andi dengan nada menyesal.

Andi kemudian menceritakan secara rinci kronologi kejadian yang terjadi pada Kamis, 22 Januari 2026.

Saat itu, ia berniat pergi ke Desa Gaung Asam untuk mengembalikan terpal yang dipinjam dari kerabatnya.

Sehari sebelumnya, korban sempat mengajak Andi jalan-jalan, namun ditolak karena sudah memiliki rencana sendiri.

Ketika hendak berangkat dari SPPG, korban disebut memaksa ikut.

Karena tidak ingin terjadi keributan, Andi akhirnya mengalah dan membonceng korban menggunakan sepeda motor milik korban.

BACA JUGA: Kasus Pria di Muba Tewas di Tandon Terungkap, Motif Perampokan?

Namun di tengah perjalanan, situasi berubah.

Andi mengaku merasa sangat terganggu karena korban terus memegang dan menggerayanginya di atas sepeda motor.

Emosi Andi pun memuncak. Ia menghentikan laju kendaraan, lalu menjegal kaki korban hingga terjatuh.

Tidak berhenti di situ, Andi juga menekan dada korban.

Saat korban melakukan perlawanan, pelaku mengaku panik dan semakin gelap mata.

Ia kemudian menjerat leher korban menggunakan jilbab yang dikenakan Wulandari hingga korban tak lagi bergerak.

BACA JUGA: Pelajar 14 Tahun Tewas Terlindas Bus di Depan Sekolah

“Saya lilit pakai jilbab. Tahu kalau dia mati karena ada darah dan lidahnya menjulur keluar,” tutur Andi kepada penyidik.

Setelah memastikan korban tidak bernyawa, Andi menyeret dan meninggalkan jasad korban di semak-semak dekat bekas kebun nanas.

Ia lalu membawa sepeda motor korban hingga ke wilayah Lembak.

Di sana, motor tersebut ditinggalkan dan kuncinya dibuang untuk menghilangkan jejak.

Beberapa ratus meter berjalan kaki, Andi kemudian melanjutkan perjalanan pulang ke Palembang dengan menaiki kendaraan travel.

Sejak saat itu, ia hidup dalam bayang-bayang ketakutan dan penyesalan, hingga akhirnya memutuskan menyerahkan diri.

BACA JUGA: Ditangkap Polisi, Terduga Bandar Narkoba Tewas di Rumah Sakit

Kasus ini menjadi pengingat keras bahwa konflik personal yang tidak dikelola dengan baik dapat berujung pada tragedi.

Aparat kepolisian pun mengimbau masyarakat untuk segera melapor atau mencari bantuan jika mengalami tekanan atau gangguan yang berpotensi memicu tindakan kekerasan. (*/red)

No More Posts Available.

No more pages to load.