Categories: Ekonomi Headline Lubuk Linggau Metropolis

Pemkot Lubuk Linggau Rela ‘Buang’ Rp6 Miliar Demi Rakyat? Ini Fakta di Baliknya!

Ringkasan Berita:

° Pemkot Lubuk Linggau kehilangan potensi pajak hingga Rp6 miliar per tahun setelah BPHTB bagi MBR resmi dihapuskan mulai Januari 2025.

° Kebijakan berbasis regulasi nasional ini dianggap langkah strategis untuk mempercepat akses rumah pertama bagi masyarakat berpenghasilan rendah.


JAKARTA, LINTANGPOS.com – Pemerintah Kota Lubuk Linggau mengambil langkah besar yang dampaknya langsung terasa di kas daerah.

Mulai Januari 2025, Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (BPHTB) untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) resmi dihapuskan.

Kebijakan ini membuat pemerintah kota kehilangan potensi pajak berkisar Rp3–4 miliar per tahun khusus dari BPHTB MBR, dan total potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang hilang bisa mencapai Rp6 miliar.

Namun bagi Pemkot, angka tersebut bukan alasan untuk mundur.

Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Lubuk Linggau, H Hendra Gunawan, menegaskan bahwa kebijakan ini berdiri di atas dasar hukum yang kuat—mulai dari Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan Pemerintah Pusat dan Daerah, hingga PP Nomor 35 Tahun 2023 tentang Ketentuan Umum Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

Payung hukum lokalnya pun telah diterbitkan lewat Peraturan Wali Kota (Perwal) Lubuk Linggau Nomor 38 Tahun 2024.

BACA JUGA: Bupati Muara Enim Geram Klakson Kereta Batu Bara, Sindir PT KAI Tak Bayar Pajak!

“Tidak apa, ini program pemerintah untuk membantu masyarakat. Regulasi sudah jelas,” ujar Hendra.

Siapa yang Masuk Kategori MBR?

Tidak semua rumah subsidi otomatis bebas BPHTB. Ada beberapa kriteria yang harus dipenuhi, antara lain:

  • Luas rumah maksimal 36 m²
  • Penghasilan di bawah Rp8 juta per bulan
  • Merupakan rumah pertama

Jika seseorang membeli rumah kedua atau ketiga, BPHTB tetap dikenakan meski tipe rumahnya subsidi.

“Kalau beli rumah kedua berarti mampu,” tegas Hendra.

BACA JUGA: Purbaya Tunda Penerapan Pajak E-Commerce, UMKM Digital Bernapas Lega

Untuk konteks, BPHTB yang biasanya dibayarkan MBR berkisar antara Rp2,8 juta hingga Rp3 juta, tergantung lokasi perumahan.

Prosesnya Tak Serta-merta Gratis

Sebelum BPHTB dinolkan, pihak pengembang wajib melunasi Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2).

Page: 1 2

Redaksi

Recent Posts

  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Mendagri Tito Karnavian Singgah di Stand Dekranasda Empat Lawang

Mendagri Tito Karnavian bersama istri mengunjungi stand Dekranasda Empat Lawang dalam Kriyanusa 2026 di JCC…

20 jam ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Hujan Deras Guyur Tebing Tinggi, Warga Sambut Gembira

Hujan deras disertai angin kencang mengguyur Tebing Tinggi, Empat Lawang, Minggu siang. Warga menyambut gembira…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

ORADO Empat Lawang Kirim 14 Atlet ke Piala Panglima TNI

ORADO Empat Lawang mengirim 14 atlet ke Open Tournament Domino Piala Panglima TNI di Lahat.…

2 hari ago
  • Berita
  • Nasional

Sumsel Jadi Ikon Kriyanusa 2026, Herman Deru Soroti Kekuatan Kriya Daerah

Sumatera Selatan menjadi ikon Kriyanusa 2026 di JICC Jakarta. Herman Deru hadir menyaksikan produk dan…

2 hari ago
  • Berita
  • Palembang
  • Sumsel

Herman Deru Dorong Pemuda Sumsel Jadi Pencipta Lapangan Kerja

Herman Deru mendorong pemuda Sumsel mengubah mindset dari pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja melalui…

2 hari ago
  • Artikel
  • Nasional

Lobang Buaya, Horor Misteri yang Sengaja Mengecoh Penonton

Film Lobang Buaya karya Hanung Bramantyo mengandalkan misteri pembunuhan dan plot twist, dengan latar fiksi…

2 hari ago