Categories: Bengkulu Kepahiang

Pipa Oplah Bikin Sawah Kering Berbulan-bulan

KEPAHIANG, LINTANGPOS.com – Proyek perpipaan yang bersumber dari anggaran Program Optimalisasi Lahan (Oplah) tahun 2025 di Desa Suro Lembak, Kecamatan Ujan Mas, masih menyisakan persoalan serius bagi para petani.

Alih-alih memperlancar distribusi air ke lahan persawahan, proyek tersebut justru dituding menjadi penyebab macetnya aktivitas tanam selama lebih dari tiga bulan.

Hasil konfirmasi pada 21 Februari 2026 dari warga pengguna air serta pengurus KP2A Kelompok Tani Tunas Muda mengungkapkan kekecewaan mendalam.

Sejak perpipaan dipasang, air tidak lagi mengalir ke sawah mereka.

“Kami merasa sangat dirugikan. Air yang biasanya mengalir lancar kini terhenti, sawah kami kering, dan aktivitas pertanian praktis lumpuh,” ujar salah satu petani yang enggan disebutkan namanya.

Masalah teknis menjadi sorotan utama. Pipa yang dipasang berukuran 4 inci dan diletakkan di siring saluran air.

BACA JUGA: Oplah Kepahiang Disorot, Warga Keluhkan Proyek dan Konflik Jabatan

Menurut para petani, ukuran tersebut jauh dari kebutuhan ideal.

“Semestinya menggunakan pipa 12 inci agar debit air cukup untuk mengairi sawah,” ungkap perwakilan pengguna air.

Akibat ketidaksesuaian spesifikasi itu, aliran air menjadi tersendat dan tidak mampu menjangkau seluruh lahan pertanian.

Tak hanya soal pipa, keberadaan bak sentral penampung air juga menuai kritik.

Bak tersebut disebut tumpang tindih dengan bangunan milik Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).

Kondisi ini menimbulkan tanda tanya terkait perencanaan dan perizinan proyek.

BACA JUGA: Intimidasi PPL Terbongkar, Kadis Pertanian Kepahiang Ambil Sikap Tegas!

Di sisi lain, warga mengaku tidak pernah mendapatkan informasi terbuka mengenai besaran anggaran yang digelontorkan untuk kegiatan tersebut.

Kekecewaan bertambah ketika muncul dugaan bahwa ada “aturan sendiri” dari oknum dinas pertanian.

Oknum tersebut diduga menunjuk langsung Junaidi sebagai pelaksana pekerjaan, tanpa melibatkan kelompok tani.

Padahal, proyek tersebut sejatinya menyasar kepentingan petani dan pengelola irigasi setempat.

Page: 1 2 3

Redaksi

Share
Tags: Bengkulu irigasi sawah kelompok tani konflik air perpipaan oplah transparansi anggaran

Recent Posts

  • Artikel
  • Nasional

“Surat untuk Masa Mudaku”, Pengingat untuk Tidak Mudah Menghakimi dan Berdamai dengan Masa Lalu

Film drama emosional tentang trauma, kehilangan, dan perjalanan berdamai dengan masa lalu, sekaligus pengingat bahwa…

5 jam ago
  • Artikel
  • Nasional

Film Na Willa Jadi Pengingat untuk Lebih Memahami Dunia Anak

Na Willa menghadirkan kisah masa kecil yang hangat sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk lebih…

5 jam ago
  • Berita
  • Musi Rawas
  • Sumsel

Kades di Musi Rawas Ditangkap Usai Kabur ke Sumut

Oknum Kades di Musi Rawas ditangkap di Deli Serdang setelah kabur terkait dugaan pemerasan dan…

8 jam ago
  • Bengkulu
  • Berita
  • Headline
  • Kepahiang

Lansia Ditemukan Meninggal di Siring Desa Pagar Gunung

Lansia berinisial AS ditemukan meninggal di siring Desa Pagar Gunung, Kepahiang. Polisi masih menyelidiki penyebab…

10 jam ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Gagal Panen Melanda Sawah Gunung Meraksa Baru, Empat Lawang

Salah seorang warga, Leki, mengatakan gagal panen terjadi di sejumlah kawasan persawahan atau ladangan di…

15 jam ago
  • Artikel
  • Nasional
  • Pendidikan

Dari Grup hingga Status WhatsApp, Remaja Pesisir Barat Manfaatkan Media Digital untuk Sebarkan Pesan Dakwah

Penelitian Nestia Destiani membahas pemanfaatan WhatsApp sebagai media penyebaran pesan dakwah oleh remaja di Desa…

1 hari ago