Ringkasan Berita:
° Membeli rumah impian bukan sekadar soal besar gaji, tetapi soal disiplin menabung.
° Dengan rencana keuangan realistis, strategi 40/30/30, rekening terpisah, investasi aman, serta dukungan program pemerintah, impian punya rumah makin dekat dan terukur.
JAKARTA, LINTANGPOS.com – Memiliki rumah sendiri masih menjadi mimpi besar bagi banyak masyarakat Indonesia.
Harga properti yang terus merangkak naik sering kali membuat impian itu terasa jauh, terutama bagi mereka dengan penghasilan pas-pasan.
Namun, para perencana keuangan sepakat, kunci utama membeli rumah bukan semata-mata soal besar kecilnya gaji, melainkan disiplin menabung yang konsisten dan strategi keuangan yang tepat.
Disiplin menabung untuk rumah impian bukan hal instan.
Dibutuhkan perencanaan matang, pengendalian diri, serta komitmen jangka panjang.
Kabar baiknya, langkah-langkahnya cukup realistis dan bisa diterapkan siapa saja, termasuk pekerja muda maupun keluarga baru.
BACA JUGA: Warna Hordeng Kontras Ini Bikin Hijau Muda Lebih Hidup di Ruangan Rumah Anda!
Menentukan Tujuan Sejak Awal
Langkah pertama yang sering diabaikan adalah menetapkan tujuan yang jelas.
Banyak orang ingin “punya rumah”, tetapi tidak pernah menghitung secara detail berapa harga rumah yang dituju dan berapa dana yang perlu disiapkan.
Misalnya, seseorang menargetkan rumah seharga Rp300 juta.
Dengan uang muka (DP) sebesar 10–20 persen, dana yang harus dikumpulkan berada di kisaran Rp30 juta hingga Rp60 juta.
Jika target menabung ditetapkan selama tiga tahun, maka kebutuhan tabungan per bulan sekitar Rp1 juta hingga Rp1,7 juta.
BACA JUGA: Paduan Warna Rumah Kekinian, Bikin Hunian Terlihat Mahal
Angka ini terlihat lebih masuk akal ketika dihitung sejak awal.
Tujuan yang jelas akan membuat proses menabung terasa lebih terarah dan tidak sekadar “menyisihkan sisa gaji”.
Strategi Menabung yang Terbukti Efektif
Setelah target ditetapkan, langkah berikutnya adalah memilih strategi menabung yang tepat.
Salah satu metode yang cukup populer dan mudah diterapkan adalah metode 40/30/30.
Dalam skema ini, 40 persen pendapatan dialokasikan untuk kebutuhan pokok, 30 persen untuk tabungan dan investasi, serta 30 persen untuk gaya hidup.
Kunci lain yang tidak kalah penting adalah memisahkan rekening tabungan rumah dari rekening harian.
Idealnya, rekening tabungan ini tidak dilengkapi kartu ATM agar dana tidak mudah diambil.
Cara ini terbukti efektif menahan godaan untuk “meminjam sementara” tabungan.
Agar lebih disiplin, setoran tabungan sebaiknya diotomatiskan.
Autodebet dari rekening gaji ke rekening tabungan rumah setiap awal bulan membuat menabung menjadi prioritas, bukan sisa dari pengeluaran.
Pangkas Pengeluaran Tanpa Menyiksa Diri
Disiplin menabung bukan berarti hidup serba kekurangan.
Yang dibutuhkan adalah pengelolaan pengeluaran yang lebih sadar.
Nongkrong berlebihan, langganan streaming yang jarang ditonton, hingga belanja impulsif sering kali menjadi “kebocoran halus” dalam keuangan bulanan.
Mengurangi pengeluaran tidak penting dan memanfaatkan promo atau diskon untuk kebutuhan pokok bisa memberi ruang tambahan bagi tabungan.
Selisih kecil yang konsisten setiap bulan akan terasa signifikan dalam jangka panjang.
Selain menghemat, menambah penghasilan juga bisa menjadi solusi.
BACA JUGA: Terungkap! Raja Thailand Ternyata Lebih Kaya dari Raja Arab Saudi dan Sultan Brunei
Pekerjaan freelance, jualan online, atau memonetisasi hobi adalah opsi realistis yang kini semakin mudah dilakukan.
Tambahan penghasilan ini bisa langsung diarahkan ke tabungan rumah agar target lebih cepat tercapai.
Jangan Biarkan Uang Diam
Menabung saja terkadang tidak cukup, terutama jika jangka waktu lebih dari satu tahun.
Agar nilai uang tidak tergerus inflasi, sebagian dana bisa ditempatkan pada instrumen investasi berisiko rendah.
Deposito dan reksa dana pasar uang cocok untuk tujuan jangka pendek hingga menengah.
BACA JUGA: 9 Benda di Rumah yang Dipercaya Menghambat Rezeki Menurut Primbon Jawa
Emas juga menjadi alternatif populer karena nilainya relatif stabil.
Prinsip utamanya sederhana: karena dana ini untuk kebutuhan primer, hindari instrumen berisiko tinggi.
Investasi yang tepat dapat membantu dana tumbuh tanpa mengorbankan rasa aman.
Namun, pastikan tetap memahami produk yang dipilih dan menyesuaikannya dengan profil risiko pribadi.
Manfaatkan Program Pemerintah
Salah satu keuntungan bagi calon pembeli rumah pertama adalah adanya berbagai program pemerintah.
KPR subsidi, misalnya, menawarkan cicilan ringan dengan bunga tetap 5 persen dan tenor hingga 20 tahun.
Program ini sangat membantu masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.
Selain itu, ada Tapera atau Tabungan Perumahan Rakyat yang dirancang sebagai tabungan jangka panjang bagi pekerja formal.
Bagi yang menghindari sistem bunga, KPR bank syariah juga bisa menjadi pilihan dengan skema bagi hasil.
Memahami dan memanfaatkan program-program ini dapat memangkas beban finansial secara signifikan, sekaligus mempercepat kepemilikan rumah.
Evaluasi dan Konsistensi Jadi Penentu
Langkah terakhir, namun sering terlupakan, adalah evaluasi rutin.
Menggunakan aplikasi keuangan seperti Catatan Keuangan, Money Lover, atau Spendee dapat membantu memantau arus kas secara lebih transparan.
Evaluasi bulanan penting untuk memastikan target menabung tetap on track.
Jika belum tercapai, strategi bisa disesuaikan, entah dengan menambah penghasilan, mengurangi pengeluaran, atau memperpanjang jangka waktu.
Pada akhirnya, membeli rumah bukan tentang siapa yang bergaji paling besar, melainkan siapa yang paling konsisten.
Dengan rencana yang realistis, disiplin menabung, dan pemanfaatan fasilitas yang tersedia, rumah impian bukan lagi sekadar angan, melainkan tujuan yang bisa dicapai selangkah demi selangkah. (*/red)





