Rumah Rakit Sungai Musi, Warisan Budaya Terapung dari Palembang

oleh -196 Dilihat
Kehidupan warga di Rumah Rakit sekitaran Sungai Musi, Sumatera Selatan pada tahun 1935. Sumber: Facebook/Bumi Nusantara 24.

Ringkasan Berita:
° Rumah rakit di Palembang, yang telah ada sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam abad ke-16, merupakan hunian terapung di Sungai Musi.

° Berfungsi sebagai tempat tinggal dan pusat ekonomi, kini keberadaannya terancam modernisasi namun tetap dilestarikan sebagai warisan budaya.


Palembang, LintangPos.com — Kota Palembang dikenal dengan Sungai Musi yang membelah wilayahnya menjadi dua bagian besar, yakni ulu dan ilir.

Sungai yang menjadi urat nadi kehidupan masyarakat ini bukan hanya jalur transportasi utama, tetapi juga tempat berdirinya permukiman tradisional khas: rumah rakit.

Rumah rakit di Palembang merupakan warisan budaya Indonesia yang memiliki nilai sejarah dan arsitektur unik.

Dibangun di atas rangkaian rakit dari bambu atau kayu yang mengapung di Sungai Musi, rumah ini menjadi bukti eratnya hubungan masyarakat Palembang dengan sungai tersebut.

Sejak masa Kesultanan Palembang Darussalam pada abad ke-16, rumah rakit berperan penting sebagai pusat kegiatan ekonomi dan sosial.

Pada masa itu, rumah rakit membantu memperlancar aktivitas perdagangan di sungai sekaligus berfungsi sebagai hunian yang mampu mengatasi risiko banjir.

BACA JUGA: Pentas Tayub di Ngandong: Harmoni Budaya Jawa yang Menghidupkan Semangat Desa

Meski sempat berjaya hingga era kolonial Belanda, keberadaan rumah rakit mulai terancam sejak tahun 1970-an akibat modernisasi dan pembangunan kota.

Kini, hanya sebagian kecil yang masih bertahan, menjadi saksi bisu sejarah panjang Palembang dan daya tarik budaya yang penting bagi pelestarian identitas lokal.

Dari sisi arsitektur, rumah rakit umumnya berbentuk persegi panjang dengan ukuran 36 hingga 64 meter persegi.

Bangunannya berdiri di atas balok kayu atau bambu tua yang tahan air, dengan lantai papan serta atap pelana dari daun nipah atau alang-alang.

Material kayu tembesu sering digunakan karena ketahanannya terhadap air.

Selain difungsikan sebagai tempat tinggal, beberapa rumah rakit juga digunakan sebagai rumah gudang yang menopang kegiatan ekonomi masyarakat sungai.

BACA JUGA: Disdikbud Pagar Alam Gelar Rembuk Adat, Perkuat Identitas Budaya Lokal

Kini, upaya pelestarian terus dilakukan oleh pemerintah daerah dan komunitas budaya untuk menjaga keberadaan rumah rakit sebagai bagian penting dari warisan budaya Sungai Musi dan jati diri masyarakat Palembang. (*/LAV/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search