Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

oleh -1010 Dilihat
oleh
Patung Sipahit Lidah. (*/Istimewa)

Namun, dalam perjalanan, ia merasa penasaran terhadap kesaktian lidah Si Badrin.

Ia kemudian kembali mendatangi jasad Si Badrin dan mencicipi bekas liur pada lidahnya.

Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, Riye Tabing kemudian meninggal setelah mencicipi liur tersebut.

Cerita pun berakhir dengan kematian kedua tokoh yang sebelumnya terlibat dalam pertikaian.

Jasad Si Badrin kemudian dibawa keluarganya dan dimakamkan di atas puncak bukit di Desa Pelang Kenidai.

Sementara keberadaan jasad Riye Tabing tidak diketahui secara pasti dalam cerita yang berkembang.

Warisan Budaya yang Tetap Hidup

Terlepas dari beragam versi dan unsur kesaktian yang terdapat di dalamnya, kisah Si Pahit Lidah memiliki posisi penting dalam kekayaan budaya Sumatera Selatan.

Cerita tersebut bukan sekadar kisah tentang manusia sakti.

Di dalamnya terdapat gambaran mengenai hubungan manusia dengan alam, keluarga, konflik, perkawinan, kepercayaan masyarakat serta nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan sosial.

Kaitannya dengan Tari Kebagh juga memperlihatkan bagaimana sebuah cerita rakyat dapat berhubungan dengan kesenian tradisional yang masih dikenal masyarakat hingga sekarang.

Kisah Serunting Sakti juga disebut telah masuk dalam Sejarah Nasional I sebagai legenda yang berkembang di kawasan dataran tinggi atau Bukit Barisan.

Hingga kini, kisah Si Pahit Lidah masih diwariskan secara lisan kepada generasi muda.

Pewarisan tersebut menjadi bagian penting dalam menjaga ingatan kolektif masyarakat Sumatera Selatan.

Di tengah perkembangan zaman, keberadaan cerita rakyat seperti Si Pahit Lidah menjadi pengingat bahwa kekayaan budaya tidak selalu tersimpan dalam benda.

Sebagian justru hidup melalui tutur kata, ingatan, dan cerita yang terus disampaikan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Karena itu, menjaga kisah Serunting Sakti berarti turut menjaga salah satu bagian dari identitas budaya Sumatera Selatan yang telah hidup selama berabad-abad. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.