“Surat untuk Masa Mudaku”, Pengingat untuk Tidak Mudah Menghakimi dan Berdamai dengan Masa Lalu

oleh -128 Dilihat
Cuplikan adegan emosional dalam film “Surat untuk Masa Mudaku”. Foto: doc/istimewa

SUKABUMI, LINTANGPOS.com – Film “Surat untuk Masa Mudaku”, yang ditulis oleh Daud Sumolang dan terinspirasi dari kisah nyata serta pengalaman hidup pribadi sang sutradara, Sim F., mengangkat cerita tentang trauma, kehilangan, dan perjalanan seseorang untuk berdamai dengan masa lalunya.

Film ini mengisahkan Kefas, seorang anak yang tumbuh di Panti Asuhan Pelita Kasih. Ia dikenal nakal, keras kepala, dan sering membuat masalah.

Namun, di balik sikap tersebut, Kefas menyimpan trauma mendalam setelah kehilangan adiknya, Angelica.

Kehidupan Kefas mulai berubah ketika Simon datang sebagai pengurus baru di panti. Berbeda dengan orang lain, Simon tidak melihat Kefas hanya sebagai anak nakal.

BACA JUGA: Film Na Willa Jadi Pengingat untuk Lebih Memahami Dunia Anak

Dengan kesabaran dan kepedulian, Simon berusaha memahami luka yang tersembunyi di balik perilaku Kefas hingga hubungan keduanya berkembang seperti ayah dan anak.

Ketika dewasa dan telah memiliki keluarga, Kefas masih membawa trauma masa kecilnya. Rasa takut kehilangan membuatnya menjadi terlalu protektif terhadap anaknya.

Kabar meninggalnya Simon kemudian membawa Kefas kembali ke panti dan kembali menghadapkan dirinya pada kenangan serta luka masa lalu.

Melalui kisah tersebut, “Surat untuk Masa Mudaku” menjadi pengingat bagi khalayak ramai untuk tidak mudah menghakimi seseorang hanya dari perilakunya.

BACA JUGA: Siswi SD di Palembang Diduga Dianiaya Guru, Mata Lebam dan Trauma Sekolah

Di balik sikap keras, kemarahan, atau perilaku buruk seseorang, mungkin terdapat luka dan trauma yang tidak diketahui orang lain.

Film ini juga mengajarkan bahwa luka masa lalu yang tidak diselesaikan dapat terus memengaruhi kehidupan hingga dewasa.

Namun, melalui kehadiran, kesabaran, kepedulian, dan keberanian untuk menerima kenyataan, setiap orang memiliki kesempatan untuk sembuh.

Pada akhirnya, Kefas belajar bahwa ia tidak dapat mengubah masa lalu atau mengembalikan orang-orang yang telah pergi.

BACA JUGA: Dari Grup hingga Status WhatsApp, Remaja Pesisir Barat Manfaatkan Media Digital untuk Sebarkan Pesan Dakwah

Namun, ia dapat memilih untuk tidak membiarkan trauma mengendalikan masa depannya.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.