Fakta Mengejutkan! Audit APAR 138 Desa Bongkar Aliran Dana Miliaran ke Aprizal

oleh -152 Dilihat
Sidang korupsi APAR Empat Lawang mengungkap kerugian negara Rp2 miliar, pelanggaran prosedur, dan aliran dana miliaran kepada terdakwa Aprizal, Kamis (27/11/2025). Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

° Audit pengadaan APAR di 138 desa Empat Lawang mengungkap kerugian negara lebih dari Rp2 miliar.

° Ahli memaparkan metode total loss dan nett loss, termasuk dugaan markup, laporan fiktif, serta aliran dana Rp1 miliar lebih kepada terdakwa Aprizal.


PALEMBANG, LINTANGPOS.com — Persidangan kasus dugaan korupsi pengadaan Alat Pemadam Api Ringan (APAR) di 138 desa Kabupaten Empat Lawang kembali memunculkan fakta penting dan mengejutkan.

Seorang ahli keuangan negara dari Inspektorat, Darwindi, dihadirkan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Empat Lawang untuk memaparkan secara teknis penyebab timbulnya kerugian negara dalam perkara yang menjerat terdakwa Aprizal.

Dalam sidang Tipikor PN Palembang yang dipimpin hakim ketua Pitriadi SH MH pada Kamis, 27 November 2025, ahli menjelaskan metode penghitungan kerugian negara yang digunakan tim audit, yakni nett loss dan total loss.

Berdasarkan dua metode tersebut, pengadaan APAR tahun anggaran 2022–2023 dinyatakan telah menimbulkan kerugian negara lebih dari Rp2 miliar.

Ahli menegaskan bahwa kerugian negara terjadi ketika uang, surat berharga, atau aset negara berkurang secara nyata dan pasti.

Pada kasus ini, seluruh kegiatan pengadaan APAR didanai dari APBN melalui alokasi anggaran desa.

BACA JUGA: Sidang APAR Memanas! Nama Sekda Empat Lawang Terseret, Kuasa Hukum Bongkar Dugaan Aliran Dana?

Pelanggaran Prosedur dan Data Tak Sesuai

Fakta audit menemukan berbagai pelanggaran administratif dan teknis.

Terdapat ketidaksesuaian signifikan antara dokumen pertanggungjawaban dan kondisi nyata di lapangan.

Salah satu poin krusial adalah tidak tercantumnya pengadaan APAR dalam Rencana Kerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (APBDes).

“Karena legalitas pelaksanaan pengadaan itu tidak ada, maka nilai kerugian ditetapkan sebagai total loss,” ujar ahli di hadapan majelis hakim. Dari komponen total loss saja, kerugian negara yang dihitung mencapai Rp1,6 miliar lebih.

Markup dan Ketidaksesuaian Barang

BACA JUGA: Kejari Lubuk Linggau Naikkan Kasus Dugaan Korupsi APAR Muratara ke Penyidikan

Melalui metode nett loss, auditor juga menemukan adanya markup harga, ketidaksesuaian jumlah barang, hingga laporan yang tidak sesuai realisasi.

Dalam uji petik di salah satu kecamatan, selisih harga APAR dinilai jauh di atas standar wajar, sementara sebagian pengadaan tidak mengikuti RAB.

Kerugian dari komponen ini mencapai lebih dari Rp425 juta.

Aliran Dana ke Aprizal

Poin paling disorot dalam persidangan adalah temuan aliran dana kepada terdakwa.

Dari hasil analisis dokumen tahun 2023, auditor menemukan bahwa Aprizal menerima lebih dari Rp1 miliar yang berasal dari delapan kecamatan.

BACA JUGA: Harga APAR Diduga Digelembungkan, Proyek Rp4 Miliar Jadi Bancakan?

Dana tersebut dikaitkan dengan kegiatan pengadaan APAR yang diduga dimasukkan secara serentak ke dalam APBDes 147 desa tanpa melalui mekanisme musyawarah desa sebagaimana diwajibkan dalam penggunaan dana desa.

Menurut JPU, sejak awal program ini sarat penyimpangan.

Harga APAR diduga dimark-up, laporan pengadaan ada yang fiktif, bahkan sebagian anggaran dialihkan ke pembelian selang pemadam yang harganya jauh lebih murah.

Selisih anggaran inilah yang diduga menjadi bancakan pihak tertentu.

Jeratan Hukum

Atas perbuatannya, Aprizal didakwa melanggar Pasal 2 ayat (1) jo Pasal 18 serta Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

BACA JUGA: Sidang Korupsi APAR Empat Lawang, Belasan Saksi Kompak Sebut Program ‘Titipan’ 

Sidang akan dilanjutkan dengan agenda mendengarkan eksepsi dari penasihat hukum terdakwa.

Publik kini menantikan apakah persidangan berikutnya juga akan mengungkap dugaan keterlibatan pihak lain, termasuk nama Sekda yang disebut-sebut menerima aliran dana dalam proses penyidikan. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.