Irigasi Pangi dan Merendang diproyeksikan menjadi infrastruktur vital yang mampu meningkatkan produktivitas pertanian, memperluas lahan tanam, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Tanpa dukungan irigasi yang memadai, petani akan terus bergantung pada curah hujan, yang kian tidak menentu akibat perubahan iklim.
Karena itu, keterlambatan pembangunan irigasi berpotensi menahan laju pertumbuhan ekonomi lokal.
Dalam konteks tersebut, pertemuan antara Pemprov Sumsel dan Banggar DPRD Lahat menjadi sinyal positif bahwa kedua pihak memiliki kesadaran yang sama: pembangunan harus berjalan, tetapi tidak boleh mengorbankan kepatuhan terhadap hukum.
BACA JUGA: Lewat Tol Palembang–Lahat Jarak Tempuh Tinggal Dua Jam! Siap Ubah Peta Ekonomi Sumsel
Diskusi yang berlangsung intensif tersebut akhirnya mengerucut pada komitmen bersama untuk mencari jalan tengah.
Pemerintah provinsi membuka peluang koordinasi lebih lanjut terkait teknis kewenangan, sementara DPRD Lahat menyatakan kesiapan untuk menyesuaikan perencanaan anggaran sesuai ketentuan.
Langkah-langkah strategis yang tengah dipertimbangkan antara lain pengusulan program irigasi melalui skema pembiayaan provinsi, penyusunan perjanjian kerja sama lintas pemerintahan, hingga penguatan dokumen perencanaan agar tidak terjadi tumpang tindih kewenangan.
Meski RAPBD Lahat 2026 belum disahkan, pertemuan ini memberi harapan baru bagi percepatan penetapannya.
Dengan komunikasi yang lebih intensif antara eksekutif daerah, DPRD, dan pemerintah provinsi, berbagai hambatan regulasi diharapkan dapat segera diurai.
BACA JUGA: Rute Palembang–Lahat Kini Makin Singkat! Ini Perubahan yang Bikin Pengendara Senyum Sepanjang Jalan
Herman Deru menutup pertemuan dengan optimisme bahwa Lahat akan tetap berada di jalur pembangunan yang berkelanjutan.
“Kuncinya koordinasi, komunikasi, dan kemauan untuk mencari solusi. Kalau semua itu berjalan, tidak ada alasan pembangunan harus terhenti,” pungkasnya.
Pertemuan ini bukan sekadar agenda formal, melainkan cerminan dinamika tata kelola pemerintahan daerah yang terus belajar menyeimbangkan ambisi pembangunan dengan kepatuhan regulasi—sebuah proses panjang yang menentukan masa depan Lahat dan kesejahteraan masyarakatnya. (*/red)
Petani mengeluhkan irigasi rusak yang membuat air tak sampai ke hilir selama bertahun-tahun dan meminta…
Proyek Sekolah Rakyat Empat Lawang senilai sekitar Rp300 miliar disorot setelah sejumlah pekerja mengeluhkan pembayaran…
Bupati Empat Lawang mengecek Sekolah Rakyat dan memastikan persiapan MPLS 7 September 2026 mencapai 90…
Kajari Empat Lawang Yuli Andri menjelaskan perbedaan Hari Lahir Kejaksaan 2 September dan Hari Bhakti…
Kejari Empat Lawang menggelar syukuran Hari Lahir ke-81 Kejaksaan Republik Indonesia. Bupati Joncik Muhammad menekankan…
Reminder bersama Abu Marlo dan Sandra Novita mengajak pendengar memahami bahwa rasa sakit akibat perkataan…