Chozali, Penjaga Jejak Si Pahit Lidah dari Pagar Alam

oleh -79 Dilihat
Sumber: Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.

Keduanya sama-sama dipercaya memiliki kesaktian.

Pertikaian akhirnya diselesaikan melalui sebuah pertarungan di dekat Danau Ranau. Mereka sepakat menggunakan tandan buah enau sebagai alat untuk menentukan siapa yang kalah.

Si Badrin mendapat kesempatan pertama. Ia menaiki pohon dan menjatuhkan tandan enau kepada Riye Tabing. Namun, tandan tersebut tidak mengenai sasarannya.

BACA JUGA: Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

Alasannya, Riye Tabing dipercaya memiliki empat mata dua di depan dan dua di belakang sehingga mampu menghindari serangan.

Ketika giliran Riye Tabing berada di atas pohon, keadaan berubah.

Tandan enau yang dijatuhkannya mengenai Si Badrin. Dalam keadaan sekarat, Si Badrin mengucapkan kata-kata yang kemudian menjadi penentu akhir hidupnya.

Ia berkata, “Matilah aku.”

Dalam keyakinan yang berkembang dalam cerita, perkataan Si Badrin selalu menjadi kenyataan. Ia pun meninggal.

BACA JUGA: Bujang Gadis Empat Lawang Ukir Prestasi di Putra Putri Sriwijaya

Namun, kisah belum benar-benar berakhir.

Riye Tabing yang penasaran dengan kesaktian lidah Si Badrin kembali mendatangi jasadnya. Ia mencicipi bekas liur di lidah Si Badrin.

Tak lama kemudian, Riye Tabing juga meninggal.

Dari sinilah julukan Si Pahit Lidah semakin melekat pada Serunting Sakti, tokoh yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa pada setiap perkataannya.

Chozali dan Ingatan yang Tak Boleh Hilang

Jasad Si Badrin kemudian disebut dibawa keluarganya ke puncak bukit di Desa Pelang Kenidai. Di tempat inilah terdapat makam yang diyakini masyarakat sebagai makam Serunting Sakti.

BACA JUGA: Legenda Muara Kelingi dan Amarah Sungai Lintang

Bagi Chozali, keberadaan makam dan cerita yang menyertainya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Keduanya menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Pagar Alam.

Kisah Serunting Sakti sendiri telah masuk dalam Sejarah Nasional 1 sebagai legenda yang berkembang di kawasan dataran tinggi atau Bukit Barisan.

Yang membuat cerita ini tetap hidup bukan hanya keberadaan makam atau lokasi-lokasi yang dikaitkan dengannya, tetapi juga masyarakat yang terus menceritakannya kepada generasi berikutnya.

Tradisi semacam inilah yang disebut tradisi lisan, tuturan yang diwariskan secara turun-temurun, termasuk sejarah lisan, dongeng, rapalan, pantun, dan cerita rakyat.

BACA JUGA: Legenda Pendekar Penjaga Gerbang Empat Lawang 

Tradisi lisan menjadi salah satu dari sepuluh objek pemajuan kebudayaan yang penting untuk dilestarikan.

Bukan Sekadar Legenda

Cerita Si Pahit Lidah mungkin terdengar seperti kisah kesaktian dari masa lampau.

Tetapi di balik tokoh Serunting Sakti, tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: cara sebuah masyarakat menjaga ingatan tentang leluhurnya.

Chozali menjadi salah satu mata rantai dari proses pewarisan tersebut.

Selama cerita masih dituturkan, nama Serunting Sakti belum benar-benar hilang.

BACA JUGA: Misteri Antu Banyu, Legenda Hantu Air Penunggu Sungai Musi yang Masih Hidup di Tengah Masyarakat Sumsel

Selama generasi muda masih mau mendengarkan, kisah Si Pahit Lidah akan terus menemukan jalannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Di Pagar Alam, legenda itu tidak hanya hidup di dalam buku.

Ia hidup dalam tutur masyarakat, dalam ingatan tentang tempat-tempat yang dikaitkan dengan kisahnya, dan dalam suara para pewaris tradisi seperti Chozali.

Karena terkadang, sebuah legenda tidak bertahan karena ditulis, melainkan karena masih ada orang yang bersedia menceritakannya.

BACA JUGA: Rumah Rakit Sungai Musi, Warisan Budaya Terapung dari Palembang

Sumber: Sriksetra, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI (Sumatera Selatan), Desember 2024. Menghidupi Ruang Budaya: Merawat Warisan Pitarah Nan Luhur Di Sumatera Selatan. Penulis: Dedy Afrianto. (*/gia)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.