Categories: Headline Pagaralam Sumsel

Chozali, Penjaga Jejak Si Pahit Lidah dari Pagar Alam

Namun, ada satu hal yang membuat Si Badrin penasaran.

Setiap bulan purnama, ia mendengar suara orang mandi di pancuran yang dibuatnya. Rasa ingin tahu akhirnya membuat Si Badrin mengintip.

Betapa terkejutnya ia ketika melihat tujuh perempuan yang diyakini sebagai bidadari turun dari kayangan untuk mandi.

Dari sinilah rangkaian kisah panjang Serunting Sakti bermula.

BACA JUGA: Kemenangan Sejarah! Makam Pangeran Kramojayo Resmi Kembali Jadi Cagar Budaya — “Tangan Tuhan” di Balik Putusan PTTUN Palembang!

Selendang Bidadari dan Asal-usul Tari Kebagh

Dengan siasat tertentu, Si Badrin berhasil mengambil selendang salah satu bidadari. Selendang itu kemudian disembunyikannya di rumah.

Akibat kehilangan selendang, bidadari bungsu tidak dapat kembali ke kayangan. Ia kemudian tinggal bersama Si Badrin dan akhirnya menjadi istrinya.

Namun, kehidupan mereka tidak berlangsung selamanya.

Ketika Si Badrin menikahi perempuan lain bernama Putri Bimbang Ati, ia meminta istri pertamanya menari di hadapan para tamu.

Bidadari bungsu bersedia dengan satu syarat: ia harus mengenakan selendangnya.

BACA JUGA: Bukit Siguntang, Wisata Sejarah dan Alam di Palembang yang Sarat Nilai Budaya

Permintaan itu dipenuhi.

Ketika selendang kembali berada di tubuhnya, bidadari bungsu mulai menari. Dalam kisah yang diwariskan masyarakat Pagar Alam, ia kemudian terbang menuju kayangan.

Tarian yang dikaitkan dengan peristiwa tersebut dipercaya menjadi bagian dari cerita asal-usul Tari Kebagh, salah satu kesenian yang dikenal masyarakat Pagar Alam.

Perseteruan Si Pahit Lidah dan Si Mata Empat

Setelah kehilangan bidadari bungsu, Si Badrin melanjutkan hidup bersama Putri Bimbang Ati.

Dari sinilah muncul konflik dengan saudara iparnya, Riye Tabing, yang dikenal dengan julukan Si Mata Empat.

BACA JUGA: Pentas Tayub di Ngandong: Harmoni Budaya Jawa yang Menghidupkan Semangat Desa

Perselisihan keduanya bermula dari perebutan jamur emas yang tumbuh pada pohon besar yang tumbang di antara ladang mereka.

Keduanya sama-sama dipercaya memiliki kesaktian.

Page: 1 2 3 4

Legina Ainil Valensi

Share
Tags: Chozali Pagar Alam Serunting Sakti Si Pahit Lidah Tari Kebagh Pagar Alam Tradisi Lisan Sumatra Selatan

Recent Posts

  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Delapan Pekerja Sekolah Rakyat Dipulangkan, Buntut Aksi Ngadu ke Bupati

Delapan pekerja proyek Sekolah Rakyat Empat Lawang dipulangkan setelah mengadukan upah. Pihak Waskita membantah ada…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pertanian
  • Sumsel

Petani Keluhkan Irigasi Rusak, Minta Segera Direhabilitasi

Petani mengeluhkan irigasi rusak yang membuat air tak sampai ke hilir selama bertahun-tahun dan meminta…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pendidikan
  • Sumsel

Keluhkan Upah, Aksi Pekerja Proyek Sekolah Rakyat Empat Lawang Langsung Dibubarkan

Proyek Sekolah Rakyat Empat Lawang senilai sekitar Rp300 miliar disorot setelah sejumlah pekerja mengeluhkan pembayaran…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pendidikan
  • Sumsel

Cek Sekolah Rakyat, Bupati Empat Lawang Pastikan MPLS Siap!

Bupati Empat Lawang mengecek Sekolah Rakyat dan memastikan persiapan MPLS 7 September 2026 mencapai 90…

3 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Beda Hari Lahir Kejaksaan dengan Hari Bhakti Adhyaksa, Ini Penjelasan Kajari Empat Lawang!

Kajari Empat Lawang Yuli Andri menjelaskan perbedaan Hari Lahir Kejaksaan 2 September dan Hari Bhakti…

3 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Syukuran HUT ke-81 Kejaksaan RI, Bupati Joncik: Kekompakan Forkopimda Empat Lawang Harus Terus Dijaga

Kejari Empat Lawang menggelar syukuran Hari Lahir ke-81 Kejaksaan Republik Indonesia. Bupati Joncik Muhammad menekankan…

3 hari ago