Zulfitri mengatakan hujan dapat membantu membasahi vegetasi dan permukaan tanah.
BACA JUGA: Cuaca Ekstrem Terjang Palembang dan OKU, Pohon Tumbang hingga Atap Rumah Rusak
Namun, turunnya hujan tidak berarti risiko kebakaran otomatis hilang.
Sumber api dan aktivitas pembakaran lahan yang tidak terkendali tetap berpotensi memicu kebakaran, terutama jika didukung angin dan material vegetasi yang mudah terbakar.
Kondisi kualitas udara Sumatera Selatan juga menjadi perhatian.
Data yang diterima Rabu (26/8/2026) mencatat konsentrasi PM2.5 di Kota Palembang mencapai 128,88 µg/m³, melebihi ambang batas 24 jam sebesar 55 µg/m³.
BACA JUGA: Empat Lawang Siagakan Pasukan Hadapi Ancaman Karhutla dan El Nino
Namun, Zulfitri mengingatkan data tersebut merupakan hasil pemantauan di Kota Palembang sehingga tidak dapat dijadikan angka langsung untuk menggambarkan kualitas udara di Kabupaten Empat Lawang.
“Data tersebut lebih tepat menjadi gambaran bahwa persoalan partikulat dan asap sedang menjadi perhatian di wilayah Sumatera Selatan,” jelasnya.
Zulfitri mengimbau masyarakat tidak melakukan pembakaran lahan, kebun, sampah maupun material mudah terbakar secara sembarangan.
Masyarakat juga diminta segera melaporkan apabila melihat kepulan asap, api di lahan terbuka atau aktivitas pembakaran yang berpotensi meluas.
BACA JUGA: Godzilla El Nino 2026 Ancam Kesehatan, Ini Bahaya Nyatanya!
“Penanganan sejak dini jauh lebih mudah dibandingkan memadamkan kebakaran yang sudah menyebar,” tegas Zulfitri.
Dengan adanya enam hotspot tersebut, BPBD Empat Lawang meminta masyarakat tetap meningkatkan kewaspadaan meskipun hujan mulai berpeluang turun.
Pemantauan dan laporan cepat dinilai penting untuk mencegah titik api berkembang menjadi karhutla. (*/gia)






