Flick bahkan menyebut Yamal sebagai “pemain yang tak tergantikan” karena kemampuannya mengatur tempo dan menciptakan peluang.
Selama musim 2024–2025 yang gemilang, Yamal mencetak 8 gol dan 13 assist di La Liga, membantu Barca meraih treble winners — termasuk Copa del Rey dan Supercopa de España.
BACA JUGA: Marcus Rashford Pasang Target Ambisius di Barcelona, Ingin Cetak 40 Kontribusi Gol
Puncaknya, performa luar biasa saat melawan Real Madrid, ketika ia mencetak satu gol dan satu assist untuk membalikkan keadaan menjadi 4–3.
Namun, bagi Martinez, di balik sinar terang itu ada risiko besar.
“Hari ketika dia menyadari betapa berat beban yang dia pikul, itu bisa jadi titik ujian bagi dirinya. Untungnya, dia anak yang fokus dan punya mental luar biasa,” jelasnya.
Peringatan dari Para Legenda
Kekhawatiran Martinez bukan satu-satunya.
Legenda klub seperti Thierry Henry dan Sergi Roberto juga menyinggung bahaya tekanan yang berlebihan.
BACA JUGA: Barcelona Resmi Bidik Julian Alvarez Sebagai Suksesor Lewandowski
Henry bahkan membandingkan situasi Yamal dengan kisah tragis Bojan Krkic, yang sempat menjadi bintang muda Barca sebelum kariernya meredup akibat tekanan mental.
“Segalanya terjadi terlalu cepat bagi pemain muda seperti dia,” kata Henry beberapa waktu lalu. “Barcelona harus menanganinya dengan hati-hati.”
Sementara itu, mantan bek Manchester United, Rio Ferdinand, menyebut Yamal “luar biasa tapi dibebani warisan besar” — terutama karena ia mengenakan nomor 10, angka keramat yang dulu milik Lionel Messi.
Yamal Tetap Tenang
Menariknya, sang pemain sendiri menolak menganggap semua itu sebagai tekanan.
“Saya tidak merasa terbebani. Saya hanya ingin bermain dan menikmatinya,” ujar Yamal dalam wawancara usai laga.
BACA JUGA: Transfer Permanen Rashford di Barcelona Terancam Batal
Ketegasan ini seolah menunjukkan kematangan di luar usianya.
Namun, seperti kata Martinez, “brilian dan beban sering berjalan beriringan.”
Kini, pertanyaannya: apakah Barcelona terlalu bergantung pada Yamal?
Jika iya, maka masa depan Blaugrana mungkin tengah bertumpu pada bahu seorang remaja — yang bahkan belum genap dua dekade hidup di dunia sepak bola profesional. (*/red)






