“Tubuh mereka utuh, tapi mungkin sudah tidak bisa bernapas karena asap tebal,” kata Erwin lirih.
BACA JUGA: Apple Ganti Titanium ke Aluminium di iPhone 17 Pro, Ini Alasanya!
Harta Ludes, Harapan Pun Hilang
Seluruh isi bedeng ludes terbakar tanpa sisa. Erwin hanya sempat menyelamatkan diri dengan pakaian yang melekat di badan.
“Semua habis, termasuk surat-surat dan perabotan. Kami benar-benar kehilangan,” tuturnya.
Warga sekitar pun tak kuasa menahan tangis melihat musibah itu. Kobaran api yang cepat menjalar membuat banyak penghuni tak sempat membawa apa pun selain diri mereka sendiri.
Evakuasi Petugas dan Dugaan Penyebab Api
Tim dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Palembang segera datang ke lokasi setelah menerima laporan.
BACA JUGA: Longsor Ancam Jembatan Sungai Beliti, Jalur Lintas Sumatera Dijaga Ketat
Namun, medan sempit dan banyaknya material mudah terbakar membuat proses pemadaman berlangsung lama.
Setelah api berhasil dikendalikan, petugas menemukan jasad Erti dan Aang di dalam kamar lantai dua.
Keduanya langsung dievakuasi dalam kondisi masih utuh dan dibawa ke rumah duka untuk disemayamkan.
Sementara itu, Edi, adik dari Aang, mengaku menerima kabar sekitar pukul 23.30 WIB. Ia menduga kebakaran disebabkan korsleting listrik.
“Mungkin karena arus pendek. Tiba-tiba muncul asap dari bawah dan atas,” jelasnya.
Ia bersyukur dua anak korban tidak berada di rumah saat kejadian.
BACA JUGA: Huawei Nova Flip S Resmi Meluncur: Ponsel Lipat Termurah dengan Fitur Premium
“Yang satu baru mulai kerja di bengkel, satunya lagi baru diwisuda dari Poltek. Kalau mereka di rumah, mungkin semuanya ikut jadi korban,” ucap Edi lega namun sedih.
Duka dari Sahabat dan Tetangga
Kabar duka pasangan suami istri itu cepat menyebar. Boy, sahabat dekat korban, tak kuasa menahan haru saat mengenang kenangan terakhir bersama mereka.
“Kemarin masih sehat, bahkan sempat posting olahraga di Jakabaring. Siapa sangka besoknya sudah berpulang,” ujarnya.
Hingga Senin pagi, rumah keluarga korban masih dipenuhi kerabat, tetangga, dan teman-teman yang datang menyampaikan belasungkawa.
“Kami hanya berharap ada perhatian dan bantuan dari pemerintah kota untuk keluarga korban, apalagi mereka kehilangan segalanya,” tambah Boy.
Harapan di Tengah Duka
Kini, keluarga korban masih berduka dan berusaha mengumpulkan kekuatan setelah kehilangan dua sosok yang mereka cintai.
Bagi mereka, kehilangan Erti dan Aang bukan hanya kehilangan saudara, tapi juga kehilangan pilar keluarga yang selama ini dikenal hangat dan penuh kasih.
Meski api telah padam, kepedihan yang membekas di Lorong Kelinci, Sekip Ujung, Palembang, masih menyala di hati keluarga dan sahabat korban. (*/red)






