Ia mengungkapkan, kabar tentang anak-anak yang kehilangan orang tua, keluarga yang kehilangan rumah, hingga warga yang kehilangan mata pencaharian akibat banjir kerap menghampiri benaknya.
Di tengah keterbatasan daya, doa menjadi kekuatan yang diyakini mampu melampaui jarak.
“Bersholawat adalah cara kita mengadu kepada Allah melalui kekasih-Nya, Rasulullah SAW. Saat lisan menyebut nama Nabi, hati kita dipenuhi harapan,” tambahnya.
Acara yang dimulai pukul 19.00 WIB itu berlangsung penuh kekhusyukan.
Saat doa untuk para korban dibacakan, banyak jamaah menunduk, sebagian meneteskan air mata.
BACA JUGA: Hujan Cuma Sejam, Kota Macet Total! Jalan Tjek Syech Mendadak ‘Jadi Kolam’ Dekat Mesjid Agung
Di antara mereka, Indra, warga Palembang, mengaku terharu dan berharap musibah segera berlalu.
“Acara ini sangat bagus. Kami berharap kehidupan di Sumatra bisa segera pulih,” katanya lirih.
Malam itu, Palembang tidak hanya berselawat. Kota ini mengirimkan doa, harapan, dan pelukan batin untuk Sumatra—mengetuk langit bersama, agar bumi kembali dikuatkan. (*/red)






