Transparansi harus menjadi standar, bukan pengecualian. Dan yang tak kalah penting, kesadaran moral harus dibangun dari dalam, bukan sekadar dipaksakan dari luar.
Lebaran seharusnya menjadi cermin. Bukan hanya untuk melihat wajah yang bersih secara fisik, tetapi juga hati yang jernih dari keserakahan.
Jika amplop-amplop itu masih menjadi pusat perhatian, maka mungkin yang perlu dipertanyakan bukan hanya sistem, tetapi juga diri kita sendiri.
Di tengah gema takbir yang terus berkumandang, semoga masih ada ruang untuk kejujuran tumbuh.
Karena tanpa itu, Lebaran hanya akan menjadi perayaan tanpa makna—sekadar rutinitas tahunan yang kehilangan ruhnya. **






