“Aku tidak ikut,” katanya singkat.
Semua terdiam.
“Ini urusan harga diri Sungai Musi!” seru Puyang Musi.
“Aku tidak peduli,” jawab Puyang Sungai Lintang dingin. “Aku mengalir untuk alam, bukan untuk adu kesombongan.”
Sebelum ada yang bisa membujuk, ia pergi meninggalkan rapat. Air Sungai Lintang mengalir menjauh, seolah memutus hubungan.
Kegelisahan mulai menyelimuti Puyang Sungai Musi, namun hari perlombaan sudah ditetapkan.
Hari Perlombaan Dimulai
Langit pagi itu kelabu. Alam menahan napas.
Puyang Sungai Kelingi bergerak lebih dulu. Ia memerintahkan seluruh anak sungainya untuk memasang aliran.
Air naik, deras, mengamuk. Sungai Kelingi berubah menjadi air bah yang tak terbendung.
Di titik pertemuan, alirannya mengalir lurus, memotong arus Sungai Musi.
Puyang Sungai Kelingi tersenyum jumawa. “Kemenangan sudah di depan mata,” katanya.
Kini giliran Sungai Musi. Perintah dikeluarkan. Anak-anak sungainya meluapkan air, membuat Musi membesar dan mengamuk.
Namun, ada yang kurang.
Meski besar dan deras, aliran Musi tak mampu membelokkan Kelingi.
Barulah saat itu Puyang Sungai Musi sadar.
“Sungai Lintang…” gumamnya. “Ia tidak membantu.”
BACA JUGA: Misteri Ojek Online Tewas Mengapung di Sungai Musi: Pergi Beli Rokok, Pulang Tinggal Nama
Negosiasi Terakhir
Utusan dikirim, namun ditolak. Akhirnya, Puyang Sungai Musi sendiri datang ke hulu Sungai Lintang.
Di sana, ia melihat aliran yang tenang namun menyimpan kekuatan besar.
“Bantulah aku,” pinta Puyang Musi dengan kerendahan hati yang jarang ia tunjukkan.
“Apa imbalannya?” tanya Puyang Sungai Lintang.
Puyang Musi terdiam sejenak, lalu berkata, “Tanah di sepanjang aliranmu akan menjadi paling subur. Lebih subur dari anak sungai mana pun.”
BACA JUGA: Akhirnya Dibuka! Rahasia di Balik Benteng Kuto Besak Palembang Bakal Bisa Dinikmati Publik
Puyang Sungai Lintang menatap jauh. Ia memikirkan manusia yang bergantung pada tanah di sekitarnya.






