“Aku setuju,” katanya akhirnya.
Amukan Sungai Lintang
Dengan seluruh kekuatannya, Sungai Lintang dipasangkan. Airnya naik drastis, menghantam apa pun yang dilewati. Batu terguling, pohon tumbang, tanah tergerus.
Ketika aliran ini menyatu dengan Sungai Musi, kekuatan Musi berlipat ganda.
Di titik pertemuan, aliran Sungai Kelingi yang sebelumnya perkasa mulai goyah. Arusnya terpecah, dibelokkan, dipatahkan.
BACA JUGA: Tanpa Usulan Sekolah, BSU 2025 Guru Madrasah Non-ASN Dipastikan Cair! Ini yang Wajib Dicek
Akhirnya, aliran Sungai Musi mengalir lurus.
Keputusan Akhir
Puyang Serunting Sakti mengangkat tangannya.
“Cukup,” katanya.
Ia menatap Puyang Sungai Kelingi. “Kau kalah.”
Dengan berat hati, Puyang Sungai Kelingi menunduk.
BACA JUGA: Malam Maut di Tanjung Agung, Banjir Bandang Telan 150 Nyawa
“Mulai hari ini,” lanjut Puyang Serunting Sakti, “pertemuan ini disebut Muara Kelingi. Sungai Kelingi bermuara ke Sungai Musi.”
Sejak saat itu, keseimbangan kembali terjaga. Dan hingga kini, manusia mengenal aliran itu sebagaimana yang ditetapkan oleh para Puyang pada zaman legenda. (*/red)







