Malam Resepsi Berubah Haru! Pasangan Turki–Palembang Dianugerahi Gelar Adat Kesultanan

oleh -170 Dilihat
Kesultanan Palembang Darussalam menganugerahkan gelar adat bagi pasangan Turki–Palembang dalam prosesi sakral yang penuh haru dan sarat makna budaya, Sabtu (22/11/2025). Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

° Malam resepsi Furkan Enes Kara dan Vivian Syafarina berubah menjadi momen bersejarah.

° Kesultanan Palembang Darussalam menganugerahkan gelar adat kehormatan kepada keduanya.

° Prosesi penuh haru ini memadukan tradisi, sejarah, dan kisah cinta dua budaya.


PALEMBANG, LINTANGPOS.com —Apa yang seharusnya menjadi malam resepsi pernikahan biasa bagi pasangan Furkan Enes Kara dan Vivian Syafarina justru menjelma menjadi momen bersejarah yang tak akan mereka lupakan.

Di sebuah hotel di Jalan Basuki Rahmad, Palembang, Sabtu malam, 22 November 2025, ruangan penuh keluarga dan tamu undangan mendadak larut dalam suasana haru ketika Kesultanan Palembang Darussalam secara resmi menganugerahkan gelar adat kehormatan kepada kedua mempelai.

Sejak awal prosesi, kebahagiaan tampak terang di wajah Furkan—pria berkebangsaan Turki—dan Vivian, gadis asli Palembang.

Keduanya mengikuti rangkaian adat Kesultanan dengan penuh syukur, seolah memahami betul bahwa apa yang terjadi di hadapan mereka melampaui sekadar seremoni pernikahan.

Ini adalah penghargaan terhadap jasa keluarga, dan sekaligus pengikat emosional antara dua budaya.

Pangeran Uryo Vebri Al Lintani, yang membuka prosesi, menjelaskan makna penganugerahan tersebut.

BACA JUGA: Proyek Listrik dari Sampah di Palembang Tembus 66,6 Persen! Wali Kota Desak Aksi Cepat, Ada Apa?

Baginya, gelar adat tidak diberikan kepada sembarang orang.

“Gelar adat kehormatan ini diberikan kepada seorang yang istimewa,” tegasnya.

Selain dinilai telah membawa kebaikan bagi Palembang, Vivian juga merupakan keponakan Isnayanti Syafrida—kerabat Kesultanan yang telah lama berbakti dan sebelumnya menyandang gelar Putri Ayu.

Atmosfer sakral mulai terasa saat Surah Al-Fatihah dibacakan untuk mengenang para Sultan Palembang terdahulu, dipimpin Mufti Kesultanan Pangeran Muhammad Kgs Mutofa.

Suasana kemudian semakin khidmat ketika Syair Sultan Mahmud Badaruddin II menggema, seolah menghadirkan kembali jejak kejayaan masa lampau.

Puncak prosesi terjadi ketika Pangeran Suryo Dr. Kemas Abdurahman Panji membacakan Watikah Kesultanan.

BACA JUGA: Tiga Rumah Ludes, Warga Berhamburan Saat Api Mengamuk di Permukiman Padat Pulau Pinang

Dalam dokumen resmi itu, Furkan Enes Kara dianugerahi gelar Temenggung Muda, sementara sang mempelai perempuan, Vivian Syafarina, menerima gelar Nyi Temenggung.

Pengumuman tersebut langsung disambut bunyi gung dan tepuk tangan meriah.

Sultan Palembang Darussalam kemudian naik ke panggung didampingi Pangeran Nato Raden Rasyid Tohir, menyematkan pin dan menyerahkan Watikah sebagai simbol penganugerahan resmi.

Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa gelar ini merupakan bentuk penghormatan atas bakti Isnayanti Syafrida—yang telah lama mengabdikan diri pada Kesultanan.

Tak hanya itu, Sultan juga mengulas kisah pertemuan unik kedua mempelai.

Dengan senyum yang menghangatkan ruangan, ia berkata, “Kalau dahulu pepatah Melayu mengatakan garam di laut, asam di gunung bertemu di dalam kuali, maka khusus pasangan ini justru dipertemukan oleh media sosial.”

BACA JUGA: Kapolri, Mentan dan Dirut Bulog Akan Disambut Gelar Adat Komering di OKU Timur

Suara tawa tamu pun pecah, mengiringi kehangatan malam itu.

Sang Sultan juga mengingatkan kembali hubungan historis antara Kesultanan Palembang dan Kekaisaran Ottoman Turki—sebuah catatan sejarah yang tiba-tiba terasa dekat saat Furkan berdiri di samping mempelai Palembang yang kini menjadi istrinya.

Di akhir sambutannya, Sultan memberikan doa restu untuk rumah tangga mereka.

“Semoga menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salihah.”

Penganugerahan gelar adat malam itu bukan hanya menandai penyatuan dua insan dari dua budaya, tetapi juga menjadi jembatan persahabatan antara Palembang dan Turki.

Dalam bingkai tradisi dan nilai-nilai luhur, malam resepsi itu menjelma menjadi peristiwa yang akan dikenang generasi ke generasi. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.