Suasana kemudian semakin khidmat ketika Syair Sultan Mahmud Badaruddin II menggema, seolah menghadirkan kembali jejak kejayaan masa lampau.
Puncak prosesi terjadi ketika Pangeran Suryo Dr. Kemas Abdurahman Panji membacakan Watikah Kesultanan.
BACA JUGA: Tiga Rumah Ludes, Warga Berhamburan Saat Api Mengamuk di Permukiman Padat Pulau Pinang
Dalam dokumen resmi itu, Furkan Enes Kara dianugerahi gelar Temenggung Muda, sementara sang mempelai perempuan, Vivian Syafarina, menerima gelar Nyi Temenggung.
Pengumuman tersebut langsung disambut bunyi gung dan tepuk tangan meriah.
Sultan Palembang Darussalam kemudian naik ke panggung didampingi Pangeran Nato Raden Rasyid Tohir, menyematkan pin dan menyerahkan Watikah sebagai simbol penganugerahan resmi.
Dalam sambutannya, Sultan menegaskan bahwa gelar ini merupakan bentuk penghormatan atas bakti Isnayanti Syafrida—yang telah lama mengabdikan diri pada Kesultanan.
Tak hanya itu, Sultan juga mengulas kisah pertemuan unik kedua mempelai.
Dengan senyum yang menghangatkan ruangan, ia berkata, “Kalau dahulu pepatah Melayu mengatakan garam di laut, asam di gunung bertemu di dalam kuali, maka khusus pasangan ini justru dipertemukan oleh media sosial.”
BACA JUGA: Kapolri, Mentan dan Dirut Bulog Akan Disambut Gelar Adat Komering di OKU Timur
Suara tawa tamu pun pecah, mengiringi kehangatan malam itu.
Sang Sultan juga mengingatkan kembali hubungan historis antara Kesultanan Palembang dan Kekaisaran Ottoman Turki—sebuah catatan sejarah yang tiba-tiba terasa dekat saat Furkan berdiri di samping mempelai Palembang yang kini menjadi istrinya.
Di akhir sambutannya, Sultan memberikan doa restu untuk rumah tangga mereka.
“Semoga menjadi pasangan yang sakinah, mawaddah, warahmah serta dikaruniai keturunan yang saleh dan salihah.”
Penganugerahan gelar adat malam itu bukan hanya menandai penyatuan dua insan dari dua budaya, tetapi juga menjadi jembatan persahabatan antara Palembang dan Turki.
Dalam bingkai tradisi dan nilai-nilai luhur, malam resepsi itu menjelma menjadi peristiwa yang akan dikenang generasi ke generasi. (*/red)






