Palembang, LintangPos.com – Kepolisian Daerah Sumatera Selatan (Polda Sumsel) akhirnya membeberkan secara rinci kronologi insiden pengrusakan dan pembakaran kantor pemerintahan serta fasilitas umum yang sempat mengguncang sejumlah daerah di Sumsel pada awal September 2025.
Dalam konferensi pers di lantai 7 Mapolda Sumsel, Kamis (18/9/2025) pukul 14.00 WIB, Kapolda Sumsel Irjen Pol Andi Rian R Djajadi menjelaskan bahwa aksi tersebut tidak sepenuhnya spontan.
Polisi menemukan indikasi adanya perencanaan, provokasi di media sosial, hingga ajakan membuat alat peledak molotov.
Rentetan peristiwa dimulai pada Sabtu (30/8) saat komunitas ojek online Palembang menggelar aksi damai menuntut keadilan terhadap Arfan.
Namun, sehari kemudian, Minggu (31/8/2025), kerusuhan pecah di Palembang dengan aksi pembakaran aset publik.
Polisi lalu mengamankan 64 orang, terdiri atas 42 orang di Mapolda Sumsel dan 17 orang di Polrestabes Palembang.
BACA JUGA: Pemkot Pagaralam Siapkan Rehabilitasi Pasar dan Terminal Nendagung
Pada 1 September 2025, aksi penyampaian aspirasi mahasiswa di Palembang, Lubuklinggau, Musi Rawas, dan Ogan Komering Ulu (OKU) berlangsung tidak sepenuhnya tertib.
Di OKU, massa bahkan merusak fasilitas publik dan melempari petugas, termasuk menghancurkan satu unit truk Dalmas Polres OKU.
Polisi juga mencatat adanya penyusupan di aksi mahasiswa di Palembang, di mana empat orang berhasil diamankan.
“Total ada 90 orang yang kami amankan, dan 25 orang ditetapkan sebagai tersangka. Dari jumlah itu, 23 dewasa dan 2 masih anak-anak,” ujar Kapolda Sumsel.
Menurutnya, tersangka ditangani oleh Krimum, Krimsus, Polrestabes Palembang, dan Polres OKU.
Dalam penyusupan, polisi menemukan tiga remaja membawa senjata tajam, serta satu orang dewasa kedapatan membawa bom molotov.
BACA JUGA: Pemkab Empat Lawang Gelar Forum Perangkat Daerah Susun RPJMD 2025–2029
Lebih jauh, polisi menemukan adanya grup media sosial yang digunakan untuk mengoordinasikan aksi, termasuk mengajarkan pembuatan molotov dan mengarahkan sasaran pengrusakan ke kantor DPRD serta fasilitas publik.
“Kami masih menyelidiki dugaan aktor di balik kerusuhan ini. Penyelidikan tidak berhenti di sini,” jelas Irjen Andi Rian.
Kapolda juga menegaskan bahwa menjaga kamtibmas tidak bisa hanya dilakukan Polri.
Pihaknya sudah berkoordinasi dengan Gubernur Sumsel, Pangdam II/Sriwijaya, hingga forum rektor untuk mencegah potensi konflik yang lebih luas.
Ia mengingatkan orang tua agar lebih mengawasi anak-anak mereka, sebab sebagian besar pelaku yang diamankan masih berstatus pelajar, baik dari SMK, sekolah umum, hingga sekolah agama.
“Mereka mudah dimanfaatkan kelompok tertentu. Bahkan ajakan melalui grup ojek online dan kegiatan balap liar jadi pintu masuk remaja terlibat kericuhan,” ungkapnya.
BACA JUGA: Kapolri, Mentan dan Dirut Bulog Akan Disambut Gelar Adat Komering di OKU Timur
Hingga kini, proses hukum terhadap 25 tersangka masih berjalan. Namun, Kapolda menekankan pentingnya kolaborasi semua pihak untuk menjaga keamanan.
“Kami ingin masyarakat tahu, semua ini bentuk keterbukaan informasi. Mari kita bergandengan tangan agar Sumsel tetap kondusif, supaya pembangunan dan pertumbuhan ekonomi tidak terganggu,” pungkasnya. (*/red)





