Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

oleh -668 Dilihat
oleh
Patung Sipahit Lidah. (*/Istimewa)

Aturannya sederhana, siapa yang mampu menjatuhkan tandan enau hingga mengenai lawannya dinyatakan kalah.

Si Badrin mendapat kesempatan pertama.

Ia naik ke pohon sementara Riye Tabing menunggu di bawah.

Tandan enau yang dijatuhkan Si Badrin hampir mengenai Riye Tabing.

Namun, Riye Tabing berhasil menghindar.

Dalam cerita, kemampuan tersebut dikaitkan dengan julukannya sebagai Si Mata Empat karena memiliki dua mata di bagian depan dan dua mata di bagian belakang.

Ketika giliran Riye Tabing tiba, ia naik ke pohon dan menjatuhkan tandan enau.

Kali ini tandan tersebut mengenai Si Badrin.

Si Badrin jatuh dan mengucapkan perkataan yang dalam kisah tersebut menjadi kenyataan.

Ia akhirnya meninggal dunia.

Peristiwa inilah yang semakin menguatkan julukannya sebagai Si Pahit Lidah, sebab perkataan terakhir yang diucapkannya dipercaya menjadi kenyataan.

Kesaktian Lidah yang Berakhir Tragis

Setelah Si Badrin meninggal, Riye Tabing meninggalkan tempat tersebut.

Namun, dalam perjalanan, ia merasa penasaran terhadap kesaktian lidah Si Badrin.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.