Skor Tinggi Tak Jamin Lolos! Ini Fakta Mengejutkan Seleksi Substansi Calon Kepala Sekolah

oleh -630 Dilihat
oleh
Seleksi substansi calon kepala sekolah 2025 tak pakai passing grade. Sistem pemeringkatan dan kuota daerah jadi penentu utama kelulusan peserta. (*/Ils)

Kompetensi profesional mencakup aspek manajerial, kewirausahaan, dan supervisi.

Seluruh kompetensi tersebut dinilai secara terintegrasi, sehingga menuntut kemampuan analisis, bukan hafalan teori.

Alasan Tak Ada Passing Grade

Tidak adanya passing grade nasional bertujuan menjaga fleksibilitas seleksi.

BACA JUGA: Guru dan Komite SMA Negeri 1 Merapi Barat Tolak Kepemimpinan Kepala Sekolah

Setiap daerah memiliki kebutuhan kepala sekolah yang berbeda-beda.

Jika ambang batas ditetapkan secara seragam, banyak daerah—terutama dengan kuota kecil—berpotensi dirugikan. Sistem pemeringkatan dinilai lebih adil karena menempatkan peserta dalam konteks persaingan daerah masing-masing.

“Kelulusan itu kontekstual, tidak bisa disamaratakan,” ujar Hasnawi.

Jika Nilai Sama, Siapa Lebih Unggul?

Regulasi juga mengantisipasi jika terdapat peserta dengan nilai yang sama. Penentuan peringkat dilakukan secara berurutan berdasarkan:

  1. Pangkat atau golongan tertinggi
  2. Masa kerja terlama
  3. Usia tertua

BACA JUGA: Pulang Antar Pacar, Siswa SMKN Ini Tak Akan Pernah Kembali Lagi ke Sekolah, Tangis Pecah Jelang Pembagian Piala!

Ketentuan ini diterapkan konsisten untuk menghindari unsur subjektivitas.

Nilai Bagus Tetap Bisa Gugur

Fenomena nilai tinggi tapi tidak lolos sering terjadi, terutama di daerah dengan kuota terbatas.

Dalam kondisi tersebut, persaingan menjadi sangat ketat.

“Tidak bisa melihat nilai saja,” kata Hasnawi, mengingatkan bahwa kuota daerah memegang peran krusial.

Kuota dan Prioritas Daerah

BACA JUGA: Tak Perlu UTBK-SNBT! Daftar Lengkap Sekolah Kedinasan 2025 yang Jadi Rebutan, Acuan Emas Persiapan 2026

Kuota ditentukan berdasarkan proyeksi kebutuhan kepala sekolah untuk periode empat tahunan.

Daerah dengan banyak sekolah tentu memiliki peluang meloloskan lebih banyak peserta.

Selain itu, prioritas kebutuhan satuan pendidikan juga berpengaruh.

Misalnya, daerah dengan banyak pelaksana tugas (Plt) kepala sekolah memiliki pertimbangan berbeda dibanding daerah yang sudah relatif stabil.

Tidak Lolos Bukan Akhir Segalanya

Peserta yang tidak lolos seleksi substansi tidak otomatis dinilai tidak kompeten.

BACA JUGA: Gaji Guru Honorer Tak Lagi dari Dana BOS! Ini Aturan Baru Kemendikdasmen yang Wajib Diketahui Sekolah

Banyak di antaranya memiliki nilai baik, namun kalah bersaing karena keterbatasan kuota.

“Tidak lolos bukan berarti tidak layak,” ujar Hasnawi.

Regulasi membuka peluang bagi peserta untuk mengikuti seleksi ulang selama program pelatihan bakal calon kepala sekolah masih tersedia dan diusulkan kembali oleh dinas pendidikan.

Pentingnya Memahami Regulasi

Kesalahpahaman kerap muncul akibat minimnya literasi regulasi.

Banyak peserta hanya mengandalkan informasi tidak resmi yang beredar.

BACA JUGA: Sekolah Rakyat di Empat Lawang Bakal Dibangun dengan Nilai Rp100 Miliar

Permendikdasmen dan Kepmendikdasmen perlu dipahami secara utuh agar peserta lebih siap secara mental dan objektif melihat hasil seleksi.

“Regulasi itu kompas kita dalam seleksi,” tutup Hasnawi.

Pemerintah berharap sistem pemeringkatan ini mampu melahirkan kepala sekolah berkualitas, demi kepemimpinan sekolah yang lebih kuat dan profesional di masa depan. (*/red)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search