Terungkap! Cara Tak Terduga Manusia Menjaga Cerita Masa Lalu Sebelum Ada Tulisan

oleh -177 Dilihat
Sejarah lisan menjadi kunci merawat memori bangsa lewat kesaksian langsung para pelaku peristiwa, mengisi ruang kosong yang tak tercatat dalam dokumen resmi.

Ringkasan Berita:

° Sejarah lisan kembali dilirik sebagai cara penting memahami masa lalu melalui kesaksian langsung para pelaku.

° Dari Amerika hingga Indonesia, metode ini membantu mengisi celah yang tak tercatat dalam dokumen resmi dan menjaga memori kolektif sebelum para saksi sejarah tiada.


PALEMBANG, LINTANGPOS.com – Sebenarnya, Apa Sih Sejarah Lisan Itu? Coba bayangkan saat Anda duduk bersama orang tua atau kakek nenek, mendengarkan mereka bercerita tentang pengalaman hidup di masa muda.

Atau ketika Anda menonton film dokumenter yang mewawancarai pejuang kemerdekaan.

Nah, tanpa sadar, Anda sudah bersentuhan dengan yang namanya sejarah lisan.

Sejarah lisan atau kalau dalam bahasa Inggris disebut “oral history” pada dasarnya adalah cara kita mengumpulkan cerita dan informasi tentang masa lalu langsung dari orang yang mengalaminya.

Beda dengan sejarah biasa yang mengandalkan dokumen dan arsip, sejarah lisan lebih fokus pada wawancara dan penuturan langsung.

Metode ini pertama kali dikembangkan di Amerika untuk melengkapi cara-cara konvensional dalam riset sejarah.

BACA JUGA: Bukit Siguntang, Wisata Sejarah dan Alam di Palembang yang Sarat Nilai Budaya

Jadi, sejarah lisan ini sifatnya sebagai pelengkap, bukan pengganti sumber tertulis.

Kalau dipikir-pikir, sebenarnya manusia sudah menggunakan cara ini sejak dulu kala.

Sebelum ada tulisan, semua pengetahuan diwariskan lewat cerita dari mulut ke mulut.

Nenek moyang kita berbagi pengalaman dan kebijaksanaan kepada anak cucu mereka melalui dongeng, legenda, dan kisah-kisah.

Tapi setelah manusia bisa menulis, ada pergeseran pandangan. Tulisan mulai dianggap lebih kredibel daripada cerita lisan.

Kenapa? Karena tulisan itu permanen apa yang ditulis 100 tahun lalu akan tetap sama isinya ketika kita baca sekarang.

BACA JUGA: Rafa Benitez Resmi Tangani Panathinaikos, Jadi Pelatih dengan Gaji Tertinggi dalam Sejarah Liga Yunani

Sementara cerita lisan bisa berubah-ubah. Setiap orang yang menceritakan ulang bisa menambah atau mengurangi detail tertentu, entah sengaja atau tidak.

Akibatnya, banyak sejarawan yang lebih “jatuh cinta” pada dokumen tertulis dan menganggap kesaksian lisan kurang bisa diandalkan. Padahal, kedua sumber ini sebenarnya saling melengkapi.

Bagaimana Sejarah Lisan Berkembang?

Kalau kita runut ke belakang, penggunaan sejarah lisan secara sistematis dimulai sekitar tahun 1930-an di Amerika Serikat.

Waktu itu, ada sebuah program bernama Works Progress Administration yang mengirim orang-orang untuk mewawancarai berbagai kelompok masyarakat.

Mereka mencatat kesaksian dari orang-orang yang masih hidup dan pernah mengalami Perang Saudara Amerika, masa perbudakan, dan peristiwa-peristiwa penting lainnya.

BACA JUGA: SMKN 1 Empat Lawang Catat Sejarah, Terapkan AI untuk Asesmen Belajar Siswa

Lalu ada momen bersejarah di tahun 1946.

Seorang profesor psikologi bernama David Boder dari Chicago pergi ke Eropa membawa alat perekam.

Tujuannya? Merekam wawancara panjang dengan para korban Holocaust. Ini dianggap sebagai praktik sejarah lisan modern yang pertama kali didokumentasikan dengan baik.

Di Inggris, tahun 1970-an menjadi masa keemasan bagi sejarah lisan. Metode ini tidak hanya digunakan untuk riset akademis, tapi juga menjadi bagian penting dalam mempelajari kehidupan masyarakat biasa dan cerita rakyat mereka.

Cerita dari Asia Tenggara dan Indonesia

Wilayah Asia Tenggara itu unik. Di sini, tradisi bercerita dan budaya lisan masih sangat kental hingga sekarang.

BACA JUGA::Masjid Cheng Hoo, Simbol Harmoni Tionghoa dan Islam di Palembang

Dari Sabang sampai Merauke, dari Thailand sampai Filipina, setiap daerah punya kekayaan cerita rakyat dan tradisi lisan yang luar biasa.

Mulai tahun 1960-an, para peneliti di Asia Tenggara menyadari pentingnya mencatat dan merekam cerita-cerita ini.

Kalau tidak didokumentasikan, banyak kisah berharga yang akan hilang ditelan waktu ketika para penuturnya meninggal dunia.

Khusus di Indonesia, sejarah lisan mulai serius dikembangkan untuk mencatat peristiwa-peristiwa besar seperti Perang Dunia II, masa pendudukan Jepang, dan perjuangan merebut kemerdekaan.

Ada nama penting yang perlu dicatat: Nugroho Notosusanto.

Sejarawan dari Universitas Indonesia ini, pada tahun 1964, memulai proyek besar di Monumen Nasional untuk mengumpulkan kesaksian tentang Revolusi Indonesia tahun 1945-1950.

BACA JUGA: Son Heung-min Janji Kembali ke London untuk Ucapkan Selamat Tinggal pada Fans Tottenham

Ini jadi tonggak penting pengakuan sejarah lisan di Indonesia.

Yang menarik, setelah era Reformasi 1998, kebutuhan untuk merekonstruksi sejarah nasional menjadi sangat mendesak.

Selama puluhan tahun, sejarah yang diajarkan di sekolah-sekolah cenderung menguntungkan pihak penguasa.

Banyak sudut pandang yang diabaikan, banyak cerita yang tidak pernah terungkap.

Makanya, sejarah lisan menjadi sangat penting untuk mengisi kekosongan itu.

Kenapa Kita Butuh Sejarah Lisan?

BACA JUGA: Penantian Panjang Berakhir, Pembangunan Pelabuhan Baru Palembang Resmi Dimulai

Ini pertanyaan bagus. Bukankah dokumen tertulis sudah cukup?
Ternyata tidak.

Ada banyak hal yang tidak tercatat dalam dokumen resmi. Bagaimana perasaan seorang ibu ketika anaknya pergi berperang?

Apa yang dirasakan rakyat biasa saat mendengar proklamasi kemerdekaan? Bagaimana kehidupan sehari-hari di masa penjajahan?

Detail-detail seperti ini jarang ada dalam dokumen resmi, tapi sangat penting untuk memahami sejarah secara utuh.

Dan hanya bisa kita dapatkan dari orang yang mengalaminya langsung.
Sejarah lisan memberikan warna dan kehidupan pada fakta-fakta kering di buku sejarah.

Ia membuat sejarah menjadi lebih dekat, lebih nyata, lebih manusiawi. Kita tidak hanya tahu apa yang terjadi, tapi juga bagaimana rasanya ketika peristiwa itu terjadi.

BACA JUGA: Gubernur Herman Deru Tekankan Kolaborasi Berkelanjutan Pemprov Sumsel dan Kejati untuk Optimalkan Aset Daerah

Bagi para peneliti, sejarah lisan juga sangat membantu ketika sumber tertulis terbatas atau tidak tersedia.

Banyak peristiwa penting yang tidak pernah didokumentasikan secara tertulis, terutama yang melibatkan masyarakat biasa atau kelompok marginal. Dengan wawancara, kita bisa menggali informasi yang selama ini terpendam.

Penutup: Merawat Memori Bersama

Sejarah lisan adalah cara kita merawat memori kolektif sebagai bangsa. Setiap kesaksian yang terekam adalah harta yang tidak ternilai, karena di dalamnya tersimpan pengalaman, emosi, dan perspektif yang tidak akan pernah kita temukan dalam dokumen resmi.

Tentu saja, sejarah lisan harus digunakan dengan bijak. Kita perlu mengecek silang dengan sumber lain, mempertimbangkan faktor ingatan yang bisa memudar, dan tetap kritis terhadap setiap informasi.

Tapi itu bukan alasan untuk mengabaikannya.

BACA JUGA: Pulo Mas Disulap Jadi Kebun Sayur Subur, Sambut PEDA KTNA Sumsel 2025

Justru sekarang, di era digital ini, kita punya kesempatan emas untuk merekam dan melestarikan kesaksian para pelaku sejarah sebelum terlambat.

Setiap hari, saksi-saksi sejarah kita semakin tua. Kalau kita tidak segera bertindak, cerita-cerita berharga itu akan ikut terkubur bersama mereka.

Sejarah lisan bukan cuma soal mencatat fakta. Ini tentang memberikan suara kepada mereka yang mungkin tidak pernah terdengar dalam narasi sejarah resmi.

Ini tentang memahami masa lalu dari berbagai sudut pandang. Dan pada akhirnya, ini tentang menjaga agar cerita-cerita penting tidak hilang begitu saja ditelan waktu. (*/red/LAV)

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.