Air Mata Ayah di Sungai Musi, Pencarian Hari ke-2 Anak Belum Juga Ditemukan

oleh -662 Dilihat
oleh
Pencarian korban tenggelam di Sungai Musi Empat Lawang memasuki hari kedua. Ayah korban datang dengan harapan besar di tengah derasnya arus sungai, Minggu (25/1/2026). Foto: Istimewa

Ringkasan Berita:

Suasana haru menyelimuti bantaran Sungai Musi, Empat Lawang. Hingga hari kedua pencarian, Madon belum ditemukan. Ayah korban datang dini hari, berharap sang anak segera ditemukan di tengah upaya tanpa henti tim gabungan dan warga.


EMPAT LAWANG, LINTANGPOS.com – Suasana duka dan harap bercampur menjadi satu di bantaran Sungai Musi, wilayah Tebing Tinggi, Kabupaten Empat Lawang.

Deru arus sungai yang deras seolah menjadi latar bisu dari perjuangan panjang keluarga dan tim gabungan yang masih terus mencari seorang korban tenggelam bernama Madon.

Memasuki hari kedua pencarian, Minggu (25/1/2026), keberadaan Madon belum juga ditemukan.

Sejak pagi hingga malam, tim gabungan tanpa henti menyisir aliran Sungai Musi yang dikenal luas, dalam, dan memiliki arus yang kuat.

Sungai ini bukan hanya jalur air utama di wilayah Sumatera Selatan, tetapi juga menyimpan risiko besar bagi siapa pun yang beraktivitas di sekitarnya.

Di tengah pencarian yang melelahkan itu, suasana menjadi semakin haru ketika Saparoni, ayah korban, tiba di lokasi sekitar pukul 04.00 WIB dini hari.

BACA JUGA: Pemain Angklung Keliling Diduga Tenggelam di Sungai Musi

Dengan langkah pelan, ia berdiri di tepi sungai, menatap aliran air yang diyakini menjadi tempat terakhir anak bungsunya terlihat.

Raut wajah Saparoni tampak lelah. Matanya sembab, suaranya bergetar.

Ia datang bukan sekadar sebagai orang tua, melainkan sebagai seorang ayah yang menggantungkan seluruh harapannya pada tim pencari dan doa masyarakat sekitar.

Saparoni diketahui merupakan putra asli Desa Babatan, Kecamatan Lintang Kanan, Kabupaten Empat Lawang.

Sejak tahun 1993, ia merantau ke Palembang untuk mengadu nasib.

Kabar tenggelamnya sang anak membuatnya segera pulang ke kampung halaman, meninggalkan segala aktivitasnya demi satu tujuan, menemukan Madon.

BACA JUGA: Hujan Semalaman, 7 Desa di OKU Timur Tenggelam

“Dia anak bungsu kami dari lima bersaudara,” ujar Saparoni lirih.

Kalimatnya terhenti sejenak, seolah menahan luapan emosi yang sulit dibendung.

No More Posts Available.

No more pages to load.