Bukan Sekadar Legenda
Cerita Si Pahit Lidah mungkin terdengar seperti kisah kesaktian dari masa lampau.
Tetapi di balik tokoh Serunting Sakti, tersimpan sesuatu yang jauh lebih penting: cara sebuah masyarakat menjaga ingatan tentang leluhurnya.
Chozali menjadi salah satu mata rantai dari proses pewarisan tersebut.
Selama cerita masih dituturkan, nama Serunting Sakti belum benar-benar hilang.
Selama generasi muda masih mau mendengarkan, kisah Si Pahit Lidah akan terus menemukan jalannya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Di Pagar Alam, legenda itu tidak hanya hidup di dalam buku.
Ia hidup dalam tutur masyarakat, dalam ingatan tentang tempat-tempat yang dikaitkan dengan kisahnya, dan dalam suara para pewaris tradisi seperti Chozali.
Karena terkadang, sebuah legenda tidak bertahan karena ditulis, melainkan karena masih ada orang yang bersedia menceritakannya.
BACA JUGA: Rumah Rakit Sungai Musi, Warisan Budaya Terapung dari Palembang
Sumber: Sriksetra, Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah VI (Sumatera Selatan), Desember 2024. Menghidupi Ruang Budaya: Merawat Warisan Pitarah Nan Luhur Di Sumatera Selatan. Penulis: Dedy Afrianto. (*/gia)






