Karena itu, belanja yang sifatnya aksesori atau masih dapat ditunda, menurutnya, dapat dikesampingkan terlebih dahulu.
“Kesampingkan dulu yang sifatnya aksesori, yang sifatnya bisa ditunda, tunda dulu,” katanya.
Herman Deru mengaitkan hal tersebut dengan konsep Epoleksosbud atau ekonomi, politik, sosial dan budaya.
BACA JUGA: Teror Begal Sadis di Jembatan Gandeng Empat Lawang, Kurir Paket Jadi Korban
Menurutnya, konektivitas antarwilayah menjadi salah satu faktor yang menjaga berbagai aspek tersebut tetap berjalan.
Empat Lawang Dapat Dukungan Rp56 Miliar
Herman Deru juga menyebut dukungan pembiayaan pembangunan untuk Kabupaten Empat Lawang tahun ini mencapai sekitar Rp56 miliar.
Anggaran tersebut, menurut dia, diharapkan dapat membantu pembangunan di tengah keterbatasan kemampuan fiskal daerah.
Ia sekaligus mengapresiasi masyarakat yang menjalankan kewajiban membayar pajak kendaraan.
BACA JUGA: Bayar Pajak Kendaraan Bisa Tanpa KTP Asli
Menurut Herman Deru, penerimaan pajak kendaraan menjadi salah satu sumber yang dikembalikan untuk mendukung pembangunan infrastruktur.
“Ini hampir dibilang 100 persen pengembalian dari pajak-pajak kendaraan,” ujarnya.
Dari Jembatan Darurat ke Akses Permanen
Ground breaking Jembatan Napalan menjadi penanda berakhirnya fase penanganan darurat setelah jembatan sebelumnya terputus akibat banjir.
Herman Deru berharap jembatan baru tersebut dapat memberikan manfaat dalam jangka panjang.
Selain menopang aktivitas ekonomi, ia menyebut ruas tersebut dapat menjadi akses wisata dan jalur evakuasi ketika terjadi keadaan darurat.
“Ini akan menjadi PR kita bersama,” kata Herman Deru saat membahas rencana peningkatan status ruas jalan tersebut menjadi jalan nasional.
Pembangunan Jembatan Napalan akhirnya tidak hanya menjadi proyek fisik. Di baliknya terdapat persoalan konektivitas, biaya transportasi dan akses masyarakat yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga di wilayah tersebut. (*/jie)1






