Categories: Artikel Opini

Lebaran di Negeri Amplop

Ada kemunafikan yang tumbuh subur dalam situasi ini.

BACA JUGA: THR ASN 2026 Mulai Cair, Rp3 Triliun Sudah Disalurkan ke 631 Ribu Pegawai Pemerintah

Di satu sisi, mereka berbicara tentang moralitas, integritas, dan pengabdian.

Di sisi lain, mereka terlibat aktif dalam praktik yang merusak kepercayaan publik.

Munafik bukan hanya soal keyakinan yang tidak sejalan dengan ucapan, tetapi juga tindakan yang bertolak belakang dengan nilai yang diklaim.

Dan dalam konteks ini, kemunafikan itu tampil terang benderang, seolah tanpa rasa malu.

Yang membuat situasi semakin rumit adalah normalisasi.

Ketika praktik ini terjadi berulang kali tanpa konsekuensi yang tegas, masyarakat perlahan menganggapnya sebagai sesuatu yang lumrah.

BACA JUGA: Masih Banyak yang Salah Paham! Ini Daftar Lengkap Karyawan yang Berhak Dapat THR Menurut Aturan Negara

“Sudah biasa,” kata sebagian orang. “Begitulah sistemnya,” ujar yang lain.

Padahal, setiap pembiaran adalah bentuk persetujuan diam-diam yang memperpanjang umur korupsi.

Padahal, Idul Fitri seharusnya menjadi titik balik.

Momentum untuk merefleksikan diri, menilai ulang pilihan hidup, dan berani meninggalkan kebiasaan buruk.

Bukan sekadar ritual tahunan, tetapi kesempatan untuk benar-benar berubah.

Jika para pejabat dan aparat hukum justru memanfaatkan momen ini untuk memperkaya diri, maka esensi Lebaran telah dikhianati.

BACA JUGA: Masjid Az-Zahro, Oase Baru Pemudik Jalinteng Sumatera

Kritik terhadap fenomena ini bukan berarti menafikan bahwa masih ada banyak individu yang jujur dan berintegritas.

Namun, suara mereka sering tenggelam oleh riuhnya praktik yang menyimpang.

Karena itu, penting untuk terus mengangkat persoalan ini ke permukaan, agar tidak larut dalam keheningan yang mematikan nurani kolektif.

Pertanyaannya, sampai kapan ironi ini akan terus berulang?

Apakah kita akan terus membiarkan Lebaran menjadi panggung sandiwara moral, di mana kesucian hanya menjadi simbol tanpa makna?

Ataukah ada keberanian untuk memutus rantai kebiasaan ini, meski harus menghadapi risiko dan tekanan?

BACA JUGA: TPG Guru Madrasah Lulusan PPG 2025 Resmi Ditunda Kemenag

Perubahan tentu tidak mudah. Ia membutuhkan komitmen, keberanian, dan konsistensi. Penegakan hukum harus benar-benar bebas dari kepentingan.

Page: 1 2 3

Redaksi

Share
Tags: Amplop aturan THR jadwal THR ASN lebaran pejabat praktik korupsi

Recent Posts

  • Berita
  • Empat Lawang
  • Sumsel

Bupati Empat Lawang Ingatkan Warga, Stop Bakar Lahan

Bupati Empat Lawang mengingatkan warga menghentikan pembakaran lahan dan mendorong pembukaan lahan tanpa bakar untuk…

1 hari ago
  • Empat Lawang
  • Pemerintahan
  • Sumsel

Bupati Joncik Tegaskan Empat Lawang Siaga Karhutla

Bupati Empat Lawang Dr. H. Joncik Muhammad menghadiri sosialisasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla)…

1 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pertanian
  • Sumsel

Petani Gunung Meraksa Baru Gagal Panen, Distan Siapkan Bantuan Bibit

Dinas Pertanian Empat Lawang akan meninjau sawah terdampak kekeringan dan membuka peluang usulan bantuan bibit…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pendidikan
  • Sumsel

Sekolah Rakyat Empat Lawang Bidik Kapasitas hingga 2.000 Peserta Didik

Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang, Suparno, mengungkapkan sekolah yang kini menampung 270 siswa…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pendidikan
  • Sumsel

Dari Keluarga Miskin Menuju Masa Depan, Ini Harapan Joncik untuk 270 Siswa Sekolah Rakyat Empat Lawang

Bupati Empat Lawang Dr. H. Joncik Muhammad berharap Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang menjadi…

2 hari ago
  • Berita
  • Empat Lawang
  • Pendidikan
  • Sumsel

Open House dan MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Empat Lawang Resmi Dibuka, Pendidikan Jadi Jalan Putus Rantai Kemiskinan

Open House dan pembukaan MPLS Sekolah Rakyat Terintegrasi 1 Kabupaten Empat Lawang Tahun Ajaran 2026/2027…

2 hari ago