Ucapan itu bagai bara disiram minyak. Air Sungai Musi bergolak. Riak-riak kecil berubah menjadi gelombang yang menghantam tepi.
“Ucapanmu adalah pembangkangan,” kata Puyang Musi dengan suara berat. “Aku lebih tua. Wilayahku lebih luas. Anak-anakku lebih banyak. Tak pernah ada sungai yang bermuara kepadamu!”
Perdebatan semakin panas. Alam sekitar merespons. Burung-burung beterbangan meninggalkan pepohonan, ikan-ikan menyelam lebih dalam, dan langit menggelap meski matahari belum tenggelam.
“Aku menantangmu!” seru Puyang Sungai Kelingi. “Bila kata tak lagi didengar, biarlah kekuatan yang berbicara!”
Tantangan itu nyaris berubah menjadi perang besar antar sungai—perang yang bisa memporak-porandakan daratan dan menenggelamkan negeri-negeri manusia.
Turunnya Puyang Serunting Sakti
Beruntung, sebelum amarah itu tumpah menjadi bencana, suara perdebatan tersebut terdengar hingga ke telinga Puyang Serunting Sakti, seorang Puyang legendaris yang dijuluki Si Pahit Lidah.
Ia adalah penjaga keseimbangan, penentu hukum alam, yang kata-katanya dipercaya bisa mengutuk batu menjadi batu, kayu menjadi kayu untuk selamanya.
Dari pertapaannya di tanah tinggi, Puyang Serunting Sakti membuka mata batinnya. Ia mendesah pelan.
“Dua sungai besar berselisih,” gumamnya. “Jika tak segera diputuskan, manusia yang akan menanggung akibatnya.”
Dengan kekuatan gaibnya, ia memanggil kedua Puyang itu untuk menghadap.
Maka, di sebuah dataran sunyi tempat angin berputar melingkar dan tanah terasa dingin meski matahari bersinar, berdirilah Puyang Sungai Musi dan Puyang Sungai Kelingi di hadapan Puyang Serunting Sakti.
Perdebatan di Hadapan Sang Penentu
BACA JUGA: Legenda Bujang Kurap, Kisah Asal Mula Terbentuknya Danau Raya di Musi Rawas Utara
“Jelaskan duduk perkara kalian,” ujar Puyang Serunting Sakti, suaranya tenang namun tak bisa dibantah.






