Teguran seperti “Ati-ati maen di sungi, gek diambek antu banyu!” masih sering terdengar hingga kini.
Ada dua versi tentang asal-usul antu banyu.
Versi pertama menyebutnya sebagai arwah seorang putri yang bunuh diri karena tak tahan dengan bau amis tubuh suaminya, seorang pangeran kerajaan.
BACA JUGA: Rumah Rakit Sungai Musi, Warisan Budaya Terapung dari Palembang
Sementara versi kedua mengisahkan seorang gadis muda yang dikutuk menjadi antu banyu karena terlalu menyukai air pasang.
Antu banyu digambarkan berambut panjang, keras, dan hidup di gua atau pusaran air sungai.
Ia dipercaya muncul pada waktu-waktu tertentu untuk memangsa manusia.
Meski hanya legenda, kisah antu banyu tetap menjadi bagian dari kearifan lokal masyarakat Sumatera Selatan, sebagai bentuk peringatan agar warga berhati-hati di sungai. (*/red)







