Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

oleh -1642 Dilihat
oleh
Patung Sipahit Lidah. (*/Istimewa)

Ia dikisahkan tinggal di daerah Tangga Manik, di tepian Sungai Selangis.

Si Badrin memiliki kebun tebu di kawasan Tebat Muare Telang.

Di tengah kebun tersebut terdapat mata air yang tidak pernah kering, bahkan ketika musim kemarau.

Mata air itu kemudian dimanfaatkan Si Badrin untuk membuat pancuran.

Namun, ia mulai curiga karena pancuran tersebut ternyata digunakan seseorang ketika malam bulan purnama.

Suatu malam, rasa penasaran membuat Si Badrin mengintip dari kejauhan.

Ia terkejut ketika mengetahui bahwa yang mandi di pancuran tersebut adalah tujuh perempuan yang dipercaya sebagai bidadari dari kayangan.

Si Badrin kemudian menggunakan akalnya untuk mengambil salah satu selendang milik bidadari.

Selendang itu disembunyikannya di bawah tiang bumbungan rumah.

Akibat kehilangan selendang, bidadari bungsu tidak dapat kembali ke kayangan bersama saudara-saudaranya.

Dalam perjalanan cerita, bidadari tersebut kemudian menikah dengan Si Badrin.

Selendang yang Melahirkan Tari Kebagh

Kehidupan rumah tangga Si Badrin dan bidadari bungsu tidak berlangsung tanpa persoalan.

Ketika usia kehamilan bidadari bungsu memasuki masa tua, Si Badrin justru tertarik kepada perempuan lain bernama Putri Bimbang Ati.

Putri Bimbang Ati disebut sebagai adik Riye Tabing, tokoh yang kemudian dikenal dengan julukan Si Mata Empat.

Dalam kisah tersebut, Si Badrin akhirnya menikahi Putri Bimbang Ati.

Pada pesta pernikahan, ia meminta bidadari bungsu menari di hadapan para tamu.

Awalnya permintaan itu ditolak.

Namun, setelah dipaksa, bidadari bungsu bersedia menari dengan satu syarat: ia harus mengenakan selendang miliknya yang selama ini disembunyikan Si Badrin.

Selendang itu akhirnya diberikan. Ketika menari, bidadari bungsu kemudian terbang dan meninggalkan dunia menuju kayangan.

Peristiwa tersebut dalam tradisi masyarakat Pagaralam dikaitkan dengan asal-usul Tari Kebagh, salah satu kesenian tradisional yang dikenal di daerah tersebut.

Anak yang Ditinggalkan di Gunung Dempo

Setelah kembali ke kayangan, bidadari bungsu tidak sepenuhnya diterima oleh saudara-saudaranya karena anak yang dikandungnya merupakan keturunan manusia.

No More Posts Available.

No more pages to load.