Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

oleh -670 Dilihat
oleh
Patung Sipahit Lidah. (*/Istimewa)

Burung Binang kemudian dititipkan kepada penguasa Gunung Dempo yang dalam cerita disebut Tuan Raje Nyawe.

Setelah tumbuh dewasa, Burung Binang diperintahkan untuk meninggalkan gunung dan berkelana mengikuti arah barat melalui anak Sungai Musi.

Ia kemudian dikenal dengan nama lain, Keria Bujang Gunung, dan merantau hingga menetap di Dusun Ulak Mengkudu.

Pertikaian dengan Si Mata Empat

Sementara itu, Si Badrin menjalani kehidupannya bersama Putri Bimbang Ati.

Ia membuka ladang di dekat lahan milik Riye Tabing atau Si Mata Empat.

Konflik di antara keduanya bermula dari sebuah pohon besar yang tumbang.

Sebagian batang pohon masuk ke lahan Si Badrin dan sebagian lainnya berada di lahan Riye Tabing.

Persoalan semakin memanas setelah muncul jamur emas pada bagian pohon tersebut.

Keduanya kemudian memperebutkan benda yang dianggap berharga itu.

Karena sama-sama memiliki kesaktian, pertikaian tidak mudah diselesaikan.

Mereka akhirnya sepakat mengadu kesaktian di sekitar Danau Ranau.

Keduanya menggunakan sebuah pohon enau sebagai arena pertarungan.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.