Ia juga menegaskan bahwa pelaksanaan mulok ini tidak boleh berhenti di acara seremonial semata.
“Harus ada kelanjutan. Utamanya bagaimana implementasi di lapangan. Pelaksanaan mulok ini akan kita evaluasi setiap tiga bulan,” ujarnya.
BACA JUGA: Empat Lawang Luncurkan Inovasi ‘Bapang Elma Bang Tapa’, Wujudkan Ketahanan Pangan Madani
Atas komitmen tersebut, Herman Deru menerima penghargaan dari Badan Pangan Nasional (Bapanas) RI, sebagai bentuk apresiasi atas langkah nyata Sumsel memperkuat pendidikan ketahanan pangan.
Penghargaan ini menjadi pengakuan nasional atas kepemimpinan Sumsel dalam bidang kemandirian pangan.
Bangun Karakter Siswa Gemar Gizi dan Produktif
Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumsel, Mondyaboni, menjelaskan bahwa Mulok Kemandirian Pangan bukan hanya membangun kesadaran tentang pentingnya pangan, tetapi juga membentuk kebiasaan positif siswa.
“Siswa kini gemar gizi, gemar bercocok tanam, dan gemar makan sayur. Ini membentuk karakter produktif dan sehat,” jelas Mondyaboni.
Ia menambahkan bahwa program ini selaras dengan visi dan misi Gubernur dan Wakil Gubernur Sumsel untuk menciptakan masyarakat mandiri pangan yang tangguh.
BACA JUGA: Pemkab Empat Lawang Susun Peta Jalan Pengendalian Inflasi 2025, Fokus pada Stabilitas Harga Pangan
“Kami berkomitmen untuk meneruskan mulok ini agar siswa menjadi agen ketahanan iklim dan pangan,” tambahnya.
Apresiasi Nasional: Model Visioner dari Sumsel
Dukungan terhadap program ini juga datang dari Direktur ICRAF Indonesia, Andree Ekadinata, yang menilai langkah Gubernur Herman Deru sebagai upaya visioner dalam memperkuat kemandirian pangan melalui pendidikan.
“Apa yang dilakukan Sumsel luar biasa, karena mengintegrasikan ketahanan pangan dalam sistem pendidikan,” ujarnya.
Menurut Andree, tantangan ke depan adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara ketahanan pangan dan ketahanan iklim.
“Ketahanan iklim berarti kemampuan kita untuk tetap tumbuh dan bangkit di tengah perubahan iklim. Karena itu, pangan menjadi faktor utama yang harus dijaga,” tambahnya.
BACA JUGA: Siswa Pelaku Bullying di SMPN Karang Jaya Dikeluarkan dari Sekolah
ICRAF juga menyoroti pentingnya dokumentasi pengetahuan lokal dalam kurikulum.
Banyak sumber pangan tradisional yang diwariskan turun-temurun, namun terancam hilang tanpa upaya pencatatan. Melalui Mulok Kemandirian Pangan, hal tersebut kini menjadi bagian dari pembelajaran sekolah.
“Semoga Mulok Kemandirian Pangan ini menjadi model nasional yang bermanfaat sebagai bekal pendidikan karakter dan ketahanan pangan bagi generasi muda Indonesia,” tutup Andree.
Tonggak Baru Pendidikan Berbasis Pangan
Inisiatif Sumatera Selatan ini menandai babak baru dalam dunia pendidikan Indonesia, di mana ketahanan pangan tidak lagi hanya menjadi urusan sektor pertanian, tetapi juga bagian integral dari pembentukan karakter dan kemandirian siswa.
Dengan dukungan berbagai pihak, Mulok Kemandirian Pangan diharapkan menjadi contoh bagi provinsi lain untuk diadaptasi secara nasional. (*/red)






