Ia kemudian kembali mendatangi jasad Si Badrin dan mencicipi bekas liur pada lidahnya.
Dalam kisah yang diwariskan masyarakat, Riye Tabing kemudian meninggal setelah mencicipi liur tersebut.
Cerita pun berakhir dengan kematian kedua tokoh yang sebelumnya terlibat dalam pertikaian.
Jasad Si Badrin kemudian dibawa keluarganya dan dimakamkan di atas puncak bukit di Desa Pelang Kenidai.
Sementara keberadaan jasad Riye Tabing tidak diketahui secara pasti dalam cerita yang berkembang.
Warisan Budaya yang Tetap Hidup
Terlepas dari beragam versi dan unsur kesaktian yang terdapat di dalamnya, kisah Si Pahit Lidah memiliki posisi penting dalam kekayaan budaya Sumatera Selatan.
Cerita tersebut bukan sekadar kisah tentang manusia sakti.
Di dalamnya terdapat gambaran mengenai hubungan manusia dengan alam, keluarga, konflik, perkawinan, kepercayaan masyarakat serta nilai-nilai yang berkembang dalam kehidupan sosial.
Kaitannya dengan Tari Kebagh juga memperlihatkan bagaimana sebuah cerita rakyat dapat berhubungan dengan kesenian tradisional yang masih dikenal masyarakat hingga sekarang.







