Chozali, Penjaga Jejak Si Pahit Lidah dari Pagar Alam

oleh -317 Dilihat
Sumber: Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.

Pertikaian akhirnya diselesaikan melalui sebuah pertarungan di dekat Danau Ranau. Mereka sepakat menggunakan tandan buah enau sebagai alat untuk menentukan siapa yang kalah.

Si Badrin mendapat kesempatan pertama. Ia menaiki pohon dan menjatuhkan tandan enau kepada Riye Tabing. Namun, tandan tersebut tidak mengenai sasarannya.

BACA JUGA: Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

Alasannya, Riye Tabing dipercaya memiliki empat mata dua di depan dan dua di belakang sehingga mampu menghindari serangan.

Ketika giliran Riye Tabing berada di atas pohon, keadaan berubah.

Tandan enau yang dijatuhkannya mengenai Si Badrin. Dalam keadaan sekarat, Si Badrin mengucapkan kata-kata yang kemudian menjadi penentu akhir hidupnya.

Ia berkata, “Matilah aku.”

Dalam keyakinan yang berkembang dalam cerita, perkataan Si Badrin selalu menjadi kenyataan. Ia pun meninggal.

BACA JUGA: Bujang Gadis Empat Lawang Ukir Prestasi di Putra Putri Sriwijaya

Namun, kisah belum benar-benar berakhir.

Riye Tabing yang penasaran dengan kesaktian lidah Si Badrin kembali mendatangi jasadnya. Ia mencicipi bekas liur di lidah Si Badrin.

Tak lama kemudian, Riye Tabing juga meninggal.

Dari sinilah julukan Si Pahit Lidah semakin melekat pada Serunting Sakti, tokoh yang dipercaya memiliki kekuatan luar biasa pada setiap perkataannya.

Chozali dan Ingatan yang Tak Boleh Hilang

Jasad Si Badrin kemudian disebut dibawa keluarganya ke puncak bukit di Desa Pelang Kenidai. Di tempat inilah terdapat makam yang diyakini masyarakat sebagai makam Serunting Sakti.

BACA JUGA: Legenda Muara Kelingi dan Amarah Sungai Lintang

Bagi Chozali, keberadaan makam dan cerita yang menyertainya bukan sekadar peninggalan masa lalu. Keduanya menjadi bagian dari ingatan budaya masyarakat Pagar Alam.

Kisah Serunting Sakti sendiri telah masuk dalam Sejarah Nasional 1 sebagai legenda yang berkembang di kawasan dataran tinggi atau Bukit Barisan.

Yang membuat cerita ini tetap hidup bukan hanya keberadaan makam atau lokasi-lokasi yang dikaitkan dengannya, tetapi juga masyarakat yang terus menceritakannya kepada generasi berikutnya.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.