Chozali, Penjaga Jejak Si Pahit Lidah dari Pagar Alam

oleh -273 Dilihat
Sumber: Balai Pelestarian Kebudayaan Sumatera Selatan.

Si Badrin mendapat kesempatan pertama. Ia menaiki pohon dan menjatuhkan tandan enau kepada Riye Tabing. Namun, tandan tersebut tidak mengenai sasarannya.

BACA JUGA: Si Pahit Lidah, Legenda Sakti yang Terus Hidup di Sumatera Selatan

Alasannya, Riye Tabing dipercaya memiliki empat mata dua di depan dan dua di belakang sehingga mampu menghindari serangan.

Ketika giliran Riye Tabing berada di atas pohon, keadaan berubah.

Tandan enau yang dijatuhkannya mengenai Si Badrin. Dalam keadaan sekarat, Si Badrin mengucapkan kata-kata yang kemudian menjadi penentu akhir hidupnya.

Ia berkata, “Matilah aku.”

Dalam keyakinan yang berkembang dalam cerita, perkataan Si Badrin selalu menjadi kenyataan. Ia pun meninggal.

BACA JUGA: Bujang Gadis Empat Lawang Ukir Prestasi di Putra Putri Sriwijaya

Namun, kisah belum benar-benar berakhir.

Riye Tabing yang penasaran dengan kesaktian lidah Si Badrin kembali mendatangi jasadnya. Ia mencicipi bekas liur di lidah Si Badrin.

Tak lama kemudian, Riye Tabing juga meninggal.

CEK BERITA LINTANGPOS.com di Google Search 

No More Posts Available.

No more pages to load.